Ini Aspirasi Bonek Jabodetabek dalam Talkshow TV Parlemen

Ini Aspirasi Bonek Jabodetabek dalam Talkshow TV Parlemen

- in BJ News

BonekJabodetabek.com | Kantuk saya masih terasa berat Jumat (11/3/2016) pagi itu, maklum mengingat sebelum menuju gedung Nusantara II DPR RI untuk menunaikan sebuah janji bernama/mewakili Bonek Jabodetabek (BJ) sebagai narasumber sebuah acara, saya terlebih dahulu menyaksikan pertandingan antara Liverpool versus MU (Manchester United), yang untungnya berakhir untuk kemenangan Liverpool.

Saya berangkat dengan kawan sekosan saya mengingat agak berat juga membawa kendaraan sepagi itu dengan keadaan kantuk yang mendera. Dan kabar buruknya bahwa beberapa kawan yang menjadwalkan diri untuk hadir di acara tersebut pun tiba-tiba tidak bisa hadir karena sesuatu.

Lantas muncul pertanyaan acara apa itu? Dan bagaimana acara itu berjalan? Saya sendiri sempat was-was juga ketika mendapatkan kabar di grup Facebook milik BJ. Simpang siur kabar mengatakan ini acara jebakan dari kelompok yang pro terhadap PSSI, namun sesuai saran dari sesepuh BJ memastikan saya tetap berangkat ke acara tersebut. Acara itu sendiri adalah talkshow dalam program Semangat Pagi Parlemen yang ditayangkan oleh TVR Parlemen, TV yang menginformasikan segala kegiatan dan hiruk pikuk DPR RI.

Seperti layaknya sebuah Talkshow, maka perbincangannya tergolong singkat, hangat, dan santai. Banyak juga kawan-kawan yang bertanya apakah acara tersebut menghasilkan sesuatu? Menurut sepengamatan saya, talkshow tidak menghasilkan apa-apa kecuali kita mau memanfaatkanya untuk menjadi sarana siar maksud dan perjuangan kita yang selama ini kita lakukan. Saya pastikan juga bahwa tidak ada kebijakan strategis yang mengikat untuk sepakbola ke depannya yang dihasilkan dari acara tersebut, namun saya berharap aspirasi kita dapat sampai ke penonton yang menonton maupun perwakilan Komisi X (DPR RI) yang hadir.

Sebelumnya saya sudah diberikan poin-poin yang mesti disampaikan dan dijadikan pijakan dalam berbicara nanti. Beberapa point tersebut adalah:

1. PSSI memang layak dibekukan setelah banyak hal yang terjadi, sebagai contoh: permasalahan gaji pemain yang setiap tahun ada tunggakan, PSSI menjadi corong parpol tertentu, kompetisi yang jauh dari kata profesional, dsb.

2. Persebaya yang berdiri pada tahun 1927, yang lahir lebih dahulu dan turut serta membidani lahirnya PSSI, sekarang dimatikan dengan memunculkan klub kloningan yang tidak jelas asal muasalnya. Meskipun dengan perjuangan panjang akhirnya Persebaya mendapatkan hak merek dari Menkumham, namun PSSI tetap tidak mau mengakuinya.

3. Sebagai penikmat bola, tentunya berharap suatu saat kompetisi berjalan lagi, namun sebelum itu PSSI harus memenuhi sembilan prasyarat dari Kemenpora. Jika PSSI tidak mau memenuhi sembilan prasyarat, harus dipertanyakan komitmen PSSI untuk menyelenggarakan sepakbola menjadi lebih baik, karena sembilan syarat Kemenpora merupakan wujud nyata kehadiran Negara dalam sepakbola.

4. Apabila PSSI memang tidak ada komitmen untuk memperbaiki sepakbola nasional, memang perlu untuk disuntik mati, kemudian Pemerintah membentuk federasi yang baru, banyak contoh negara lain yang sukses setelah Pemerintah membentuk federasi baru menggantikan federasi yang lama, seperti Australia, Brunei, dll.

Lalu juga sedikit sowan dengan Cak Andie Peci melalui Twitter, mengingat saya juga mencoba untuk menyelaraskan dengan kawan-kawan di Surabaya.

Lewat tulisan ini pula saya coba sedikit bercerita tentang kronologis acara terebut agar kawan-kawan bisa mengetahui jalannya acara dari awal hingga selesai, mengingat biasanya ada seorang Cak Andie Peci yang bicara di media namun kini ada seorang Indie tak berpeci yang ngoceh di media hehehehheee…

Pukul delapan saya tiba di lobi gedung Nusantara II dan suasana sudah ramai oleh kru TVR Parlemen yang mempersiapkan acaranya. Saya lalu menghubungi Mas Bayu yang sehari sebelumnya sudah berkomunikasi dengan saya, dan beliau pula yang memberi kesempatan dengan mengundang kawan-kawan BJ untuk tampil di acara tersebut. Saya kemudian bertemu dengannya dan berbincang serta ngopi santai sambil berbicara seputar acara tersebut. Diperkenalkanlah pula saya dengan produser acara terebut yang kemudian ia lebih banyak briefing saya. Saya kemudian diantar ke ruang tamu dan beberapa saat kemudian ketua dari The Jak Mania yaitu Bang Richard datang serta ikut dalam obrolan santai. Dan tepat pukul sembilan, Jeffri Riwu Kore dari Komisi X hadir dan ikut bergabung bersama kami.

Kami kemudian diantar menuju lobi gedung Nusantara II, karena di situlah acaranya dilangsungkan secara live di website DPR RI dan BIG TV. Saya sudah menduga sebelumnya bahwa isu yang akan dibahas ini adalah terkait keputusan MA tentang pembekuan PSSI. Di awal Jefri Riwu Kore banyak berbicara seputar keputusan tersebut dan beranggapan bahwa Menpora harus mengakuinya. Lalu Bang Richard juga menambahkan sedikit seputar kisruh yang terjadi. Saat giliran saya bicara, saya mengutarakan kesetujuan saya terhadap pembekuan PSSI karena prestasi yang tak kunjung ada, tata kelola yang buruk serta banyak masalah terutama gaji pemain di dalamnya. Bagi saya pembekuan tersebut pantas dan harusnya sanksi FIFA menjadi titik dimana PSSI harus berbenah.

Pada sesi kedua, Jefri Riwu Kore berbicara soal pertemuan dengan Kemenpora dan mennggap bahwa syarat tersebut nihil adanya, lalu ia menambahkan pula bahwa liga harus segera berjalan karena banyak yang merugi akibat dari tidak berjalannya liga. Lalu, menurut Richard, turnamen yang berjalan saat ini bukanlah solusi karena pemain membutuhkan liga dan kontrak yang panjang. Saya sepakat dengan Richard bahwa turnamen bukan solusinya karena pemain juga butuh liga sebagai laboratorium penciptaan skill serta membuat pemain semakin lebih berkembang, namun bagi saya PSSI harus memenuhi syarat dari Menpora apabila pembekuan mau dicabut. Saya menjelaskan juga bahwa saya berbeda pendapat dari dua pendapat sebelumnya di mana tata kelola itu menjadi point utama dan PSSI harus berbenah. Bukan malah mempertahankan ego apalagi kepentingan politik terasa di PSSI dan isu yang berkembang di masyarakat menjadi tarik-tarikan politik yang kemudian semakin memperkeruh. Saya tetap bersikukuh bahwa syarat dari Menpora harus dijalani oleh PSSI agar sepakbola kita menuju arah yang lebih baik.

Pada sesi terakhir, saya juga melayangkan kesetujuan saya akan wacana pembubaran PSSI, meskipun ditanggapi berbeda oleh Richard dan Jeffri Riwu Kore. Namun, bagi saya bahwa subtansi dari sepakbola Indonesia adalah spirit perjuangan membawa nama Indonesia harum di dunia, dan juga spirit persatuan seperti apa yang dulu didengungkan pendiri PSSI, apalah arti sebuah nama karena nama bisa diganti apapun jua, akan tetapi yang utama adalah spirit di atas yang mesti digelorakan dan itu tidak terlihat oleh PSSI saat ini.

Dan juga di penghujung program, saya menyuarakan kekecawaan saya terhadap federasi karena tidak kunjung mengakui Persebaya Surabaya (1927). Bahkan kalau mau dirunut pembekuan PSSI karena dualisme Persebaya. Selain itu secara hukum sah merek Persebaya milik PT Persebaya Indonesia sesuai keputusan Kementerian Hukum dan HAM beberapa tempo lalu. Dan Persebaya pula turut membidani lahirnya PSSI. Hal senada juga diutarakan oleh Richard yang juga bersimpati dan menuntut agar Persebaya lekas kembali.

Saat selesai acara, saya diwawancarai oleh pihak yang sama terkait sepakbola Indonesia. Yang kemudian saya kecewa karena dipelintir isinya dan beberapa aspirasi saya tentang syarat Menpora yang harus dipenuhi PSSI di potong oleh mereka.

Pada akhirnya, terimakasih atas kepercayaannya kepada saya. Mohon maaf apabila ada yang kurang.
Indi Hikami
Bondo bahu pikir lek perlu sak nyawane pisan!

Baca Juga

Bajol Ijo Sukses Terkam Ayam Kinantan di Surabaya

BonekJabodetabek.com | Persebaya Surabaya memetik poin sempurna saat