Aku Bonek di Tengah Puluhan Ribu The Jakmania

Aku Bonek di Tengah Puluhan Ribu The Jakmania

- in Opini

“Cemburu itu hanya untuk yang tidak percaya diri, Milea, dan sekarang aku sedang tidak percaya diri,”

Puluhan pentonton yang memadati Studio 2 salah satu bioskop di kawasan Cinere mendadak terenyuh dengan pernyataan dari idola kids zaman now, Dilan, Selasa (6/2/2018). Kata-kata itu lantas meyakinkan Milea (Kekasih Dilan, red) untuk tidak berpaling kepada yang lain.

Seminggu setelah menyaksikan film Dilan 1991 di XXI Cinere, saya mendapatkan tugas untuk meliput hajatan besar Final Piala Presiden 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK). Sebenarnya, bukan kesebelasan idaman saya, Persebaya Surabaya, yang berlaga pada final tersebut.

Persija Jakarta dan Bali United menjadi dua tim yang berhasil bermain pada laga pamungkas untuk memperebutkan trofi kayu buatan seniman asal Pulau Dewata. Profesionalitas tetap saya usung kendati bakal menjadi (mungkin) satu-satunya Bonek yang menyaksikan laga itu.

Sejak siang saya sudah berada di Senayan, menyaksikan kepadatan kawasan SUGBK yang dipenuhi The Jakmania. Bahkan saya juga turut menyimak pertandingan perebutan tempat ketiga Piala Presiden 2018 antara Sriwijaya FC vs PSMS Medan yang digelar di Stadion kebanggan publik tanah air itu.

Gondok, begitu kata yang tepat untuk melambangkan perasaan saya ketika Sriwijaya mampu membantai PSMS Medan dengan skor telak 4-0. Dalam hati saya bergumam, jika saja Persebaya yang bermain pasti tak akan semudah ini Laskar Wong Kito meraih tempat ketiga.

Di babak perempat final Piala Presiden 2018, kita sama-sama tahu, Bajul Ijo kalah secara dramatis dari Ayam Kinantan melalui babak adu penalti. Saya kesal, bagaimana bisa Abdul Rohim (kiper PSMS) yang tampil luar biasa menghadapi Persebaya bisa seburuk ini penampilannya.

Bahkan di laga semifinal, gawang kiper yang disebut-sebut “The Next Markus Horison” itu dibobol lima kali oleh Persija. Empat diantaranya dibobol oleh sosok yang akhirnya keluar sebagai pemain terbaik dan top skorer Piala Presiden 2018.

Setelah menyasikan laga Sriwijaya VS PSMS dan mencatat segala pernyataan kedua pelatih klub tersebut saat konferensi pers, saya kembali masuk ke dalam stadion. Duduk di Tribun Media, saya diapit dua The Jakmania yang juga wartawan.

Yang satu adalah teman sekantor saya yang juga menulis untuk Jak Online, sedangkan satunya lagi saya baru tahu ternyata dia bagian dari Infokom The Jakmania. Keduanya saling mengeluarkan ekspresi yang berbeda-beda.

Ketika gol Simic pertama tercipta, keduanya saling berpelukan, begitu juga hingga akhir pertandingan. Namun, saat gawang Persija terancam, keduanya menggerutu, kesal, bahkan mengeluarkan umpatan khas anak Jakarte.

Persija akhirnya berhasil menjadi juara setelah 17 tahun tak meraih trofi bergengsi. Meski Piala Presiden 2018 bukan ajang resmi, tapi saya paham, ini sangat bermakna untuk The Jakmania, atas loyalitas mereka, atas penantian mereka.

Ibarat Dilan, saya sungguh tak percaya diri saat itu. Cemburu pada puluhan ribu The Jakmania yang berpesta dirumahnya sendiri, SUGBK. Pikiran saya terbang jauh, apa yang terjadi jika Persebaya yang ada di posisi Persija, menang di GBK.

Pertama, mungkin publik dan media banyak yang “mengecam”. Bayangkan saja, The Jakmania saja disindir karena mungkin tak akan bisa menjaga ketertiban GBK, bagaimana dengan Bonek? Saya sadar kami masih butuh banyak berbenah dan berubah.

Pikiran buruk saya langsung muncul, mungkin masih sulit bagi Persebaya untuk juara jika faktor keamanan jadi alasan teknis suatu kompetisi di Indonesia. Sebagai Bonek, saya juga berpikir jauh jika kami harus bermain di Jakarta.

Hubungan antara Bonek dan The Jakmania mungkin sudah lebih baik, tapi bagaimana dengan rekan-rekan kita yang masih suka onar dan melakukan tindakan yang tak diinginkan di GBK juga masuk final. Hmm, saya tak berani berpikiran jauh.

“Daripada harus mengurusi Bonek, lebih baik gugurkan saja Persebaya di babak perempat final,”

Tak sadar, Persija sudah mengangkat Piala Presiden 2018. Sedari tadi saya masih memantau linimasa twitter, ada kabar buruk dari Sleman, beberapa Bonek berulah di Stadion Maguwoharjo. Sungguh, itu membuat saya semakin tidak percaya diri.

Baca Juga

Karunia Tuhan Itu Bernama Kabar Baik dari Lamongan

Sejak umur saya menginjak belasan, saya menyimpulkan satu