Apa yang tak Membunuhmu, Membuatmu Lebih Kuat

Apa yang tak Membunuhmu, Membuatmu Lebih Kuat

- in Opini

“Apa yang tak membunuhmu, membuatmu lebih kuat”

BonekJabodetabek.com | Kalimat magis dari Nietzsche tersebut seolah mempertegas keajaiban yang diperoleh Bonek dan Persebaya. Mungkin lebih tepatnya keajaiban yang diperjuangkan, dalam rangka membangkitkan kembali Persebaya dari mati suri, yang disengajakan.

Tidak hanya seorang Wisnu Wardana, La Nyalla dan gembong premannya, institusi sepakbola tertinggi di negeri ini hingga polisinya, merasakan betapa keras dan sulitnya meruntuhkan (idealisme) Bonek.

Bayangkan, hingga tujuh tahun perlawanan tak sedikitpun mereka berhasil melenyapkan kerinduan Bonek terhadap Persebaya. Meski berbagai cara dilakukan, mulai kloning, pembelian lisensi di bawah tangan, hingga cara-cara culas lainnya untuk membumihanguskan Persebaya dan Bonek, nyatanya sampai saat ini, tak juga mengubah sedikitpun kecintaan Bonek pada Persebaya yang asli.

Dan tak mampu mengendurkan perjuangan Bonek dalam rangka membangkitkan Persebaya. Alih-alih kendur, yang terjadi malah (perjuangannya) semakin kuat, baik dari dalam Bonek sendiri maupun dari support (dan hubungan) dengan suporter lain.

Sungguh luar biasa..!!!!

Ini juga semakin mensahihkan perkataan Eric Cantona –sang legenda Manchester United– terhadap bonek:
“Kau bisa mengganti istri, pandangan politik, atau agamamu, tapi kau tidak bisa mengganti klub favoritmu.”

Persis sebagaimana pula gambaran Bill Shankly the Midas, yang redaksinya diubah jadi Persebaya:
“Saya (Bonek) dilahirkan untuk Persebaya, dan Persebaya dilahirkan untuk saya (Bonek).”

Persebaya dan Bonek itu tak hanya sekadar hubungan klub dan suporter, lebih jauh dari itu malah. Kalau boleh sedikit hiperbolis, maka Bonek dan Persebaya itu laiknya anggota tubuh, satu dan lainnya saling terikat untuk (bisa) hidup. Maka, memisahkan satu dengan lainnya, sama saja menyakiti keduanya.

Itulah mengapa jargon yang sering dikumandangkan yakni “Di mana kau berada, di situ kami ada”, seolah-olah keduanya memang bagian tak terpisahkan satu sama lainnya. Tengok jugalah lirik chant Persebaya “Emosi Jiwaku”, yang tertuang juga kalimat “…..Yakinilah bahwa kau takkan sendirian, di sini Bonek slalu mendukungmu.”

Maka, boleh jadi hasil rapat exco PSSI, Selasa (7/9) malam, yang memutuskan Persebaya kembali berlaga di Divisi Utama merupakan akumulasi keengganan para politisi busuk itu melawan api idealisme Bonek yang tak kunjung padam. Dan besar kemungkinan, hal-hal konyol seperti menduplikasi Persebaya dsb, tak bakal terjadi di masa depan. Kapok..!!!

Akhir kata, selamat untuk Bonek sejagat raya, kalianlah representasi dari tulisan Pramoedya Ananta Toer ini:
“Revolusi atau perjuangan apa saja bisa lahir dan mencapai keagungannya kalau setiap pribadi tampil berani.”

Sebab menihilkan peran Bonek dalam kebangkitan Persebaya kali ini adalah naif yang keterlaluan.

Paham kan, sayang?

#wani

*Oleh: Kukuh Beted

Baca Juga

Hujan Kartu Merah Warnai Kemenangan Persebaya atas Martapura

BonekJabodetabek.com | Laga antara Persebaya Surabaya dan Martapura