Epic Comeback ala Persebaya

Epic Comeback ala Persebaya

- in Opini

BonekJabodetabek.com | Bagi yang bermain game “Mobile Legends” di mobile phone versi android/ios pasti mengenal istilah epic comeback.

Bagi yang belum tau, epic comeback adalah situasi dimana tim kita pada permainan kalah dalam jumlah “kill” dan “assist”, namun pada akhirnya bisa memenangkan pertarungan.

Lalu bagaimana epic comeback ala Persebaya?

Semua berawal ketika musim Divisi 1 tahun 2003 bergulir, di mana Persebaya saat itu di musim sebelumnya terkena degradasi dari Divisi Utama. Semua pihak pada saat itu tentunya sedih, namun semuanya bertekat untuk mengembalikan Persebaya ke pentas divisi utama. Pemain disusun, manajemen terbentuk dan Mamak ditunjuk sebagai pelatih Persebaya.

Ketika musim telah bergulir, ekspektasi ternyata tak sesuai kenyataan, Persebaya masih terseok di fase grup, bahkan saat itu G10N (Gelora 10 November) juga sepi dari Bonek (hormat untuk anda sekalian yang masih terus mendampingi Persebaya pada saat itu), manajemen kemudian bergerak cepat, Mamak digantikan oleh Jacksen.

Lambat laun Persebaya menemukan jati dirinya kembali. G10N menjadi ramai, dan di penyisihan grup C menjadi runner-up dengan poin 17 (5-2-3) di bawah PSIM, yang menjadikan Persebaya berhak masuk 8 besar.

Babak 8 besar dengan sistem home/away, Persebaya tetap stel kenceng, dan di akhir musim menjadi juara dan promosi ke Divisi Utama dengan poin 27 (8-3-3) dengan torehan 27 memasukkan 15 kemasukan, produktivitas gol yang tinggi tersebut yang membuat Persebaya menjadi juara, karena PSMS yang menjadi runner-up sebenarnya juga mempunyai poin yang sama tapi kalah dalam jumlah selisih gol.

Jika kita menyimak kembali, perjalanan musim 2003 dan 2017 hampir sama.

Yang pertama, harapan untuk masuk ke kasta tertinggi sangat besar, dan Bonek di musim 2017 tak pernah meninggalkan Persebaya sendirian dengan memenuhi stadion di manapun Persebaya berlaga.

Kedua, Persebaya sempat terseok juga di awal musim, untungnya manajemen juga bergerak cepat dengan mengganti pelatih dari Iwan Setiawan ke Alfredo Vera, yang kemudian menemukan jati dirinya kembali dengan permainan menyerang yang militan.

Ketiga, fase akhir pun sama dengan saat musim 2003, dimana rival utama untuk menjadi juara adalah PSMS.

Dan yang harus diingat juga, di musim selanjutnya (Divisi Utama 2004), Persebaya epic comeback dengan luar biasa, menjadi juara di musim paling ketat dalam sejarah Liga Indonesia. (Musim 2004, bisa menjadi cerita tersendiri nantinya).

Jika mengingat hal itu kembali, tentunya kita harus berharap, semoga Persebaya bisa epic comeback kembali dengan menjadi juara Liga 2 seperti tahun 2003, dan di musim selanjutnya bisa menjadi juara Liga 1 seperti halnya tahun 2004.

Sebuah musim yang indah untuk dikenang.
Mari menjemput juara di Bandung.
Terus hijaukan Bandung.

Baca Juga

Pesta Juara dan Sudut Sunyi Karanggayam

BonekJabodetabek.com | Persebaya kembali ke Liga Indonesia dengan luar