Karunia Tuhan Itu Bernama Kabar Baik dari Lamongan

Karunia Tuhan Itu Bernama Kabar Baik dari Lamongan

- in Opini

Sejak umur saya menginjak belasan, saya menyimpulkan satu hal, Tuhan adalah sutradara terbaik di jagat raya ini. Bagaimana tidak, Jumat (30/3/2018) ini ada dua kabar baik buruk berdatangan mengahampiri saya di waktu yang tak jauh.

Mari biarkan saya bercerita. Sejak kemarin beberapa tulisan saya garap untuk keperluan tempat kerja saya. Tulisan itu mengenai kondisi terkini tentang dua kubu suporter yang berpotensi bertemu di Stadion Surajaya, Lamongan pada pekan kedua Liga 1.

Dua kubu suporter itu tentunya adalah Bonek, Pendukung Persebaya dan Lamongan Fans yang (LA Mania dan Curva Boys 1967) yang merupakan Suporter dari Persela. Meski panitia pelaksana yang bertanggung jawab dalam pertandingan itu memastikan bahwa Bonek tak boleh datang, kok ya saya punya firasat yang lain.

“Petanda baik pasti menununtun ke arah yang benar”

Tidak usah dipikirkan kutipan itu siapa yang mengucapkannya terlebih dahulu. Setidaknya sejak semalam sebelum pertandingan saya punya firasat apik. Bonek yang bakal datang ke Surajaya bakal disambut dengan apik, dan himbauan panpel hanya kamuflase semata.

Saya percaya, niatan 70% Bonek yang datang ke Lamongan sebenarnya mengusung misi lain yang berbeda dibawa oleh Misbakus Solikin dkk. Ini hanya firasat, sebab saya tak punya waktu untuk memberi selembar kertas survei yang harus diisi Bonek yang hadir di Surajaya.

Misi terselubung mereka itu adalah menjadi saksi dan mempertegas komitmen perdamaian antara Bonek dan LA Mania. Untuk soal ini, saya berani mengatakan hanya Bonek yang berani bertaruh nyawa demi sebuah kata “Perdamaian”.

Ingat tragedi perdamaian palsu beberapa tahun lalu? beberapa Bonek yang hadir langsung ke Surajaya nampaknya telah melupakan dalam-dalam kejadian itu. Begitu juga saya, segala kisah pertikaian itu juga akan saya akhiri dengan tanda titik di akhir paragraf ini.

Surajaya memang tak besar, tapi kebesaran hati Lamongan Fans lebih besar (saya akui) dari bumi ini. Hiperbola memang, tapi nyanyian keakraban sepanjang dan pada akhir laga yang viral di sosial media bisa jadi buktinya. Sayang, nyanyian itu tertutup narasi komentator yang lebih banyak berbicara drama ketimbang fakta di rumput hijau.

“Jauh dari Lamongan, Jakarta dan Bandung kembali bergerak”

Setelah sholat Jumat saya berbicara dengan teman saya yang kebetulan seorang pendukung Persija. Pembicaraan kita seputar video ejekan yang dilakukan salah satu pemain Macan Kemayoran. Kami punya satu pendapat yang sama hingga saya mengeluarkan sebuah kalimat yang terduga.

“Rivalitas memang membuat segala sesuatunya tak masuk di akal”

Bukankah demikian? Tapi perdamaian juga terkadang datang melalui cara-cara yang di luar nalar. Bukan mengesampingkan keberadaan suporter lain, namun saya punya teori unik. Saat Persebaya dimatikan oleh PSSI, konstalasi peta konflik antara suporter di seluruh Indonesia mengalami perubahan.

Kini, pertarungan besar antara kubu aliansi Bonek-Viking dan Aremania-The Jak perlahan terkikis. Jika ada kesempatan, saya mencoba untuk mencari penyebabnya (amin, jika tidak malas, insyaallah). Namun, tak bisa dipungkiri, konflik suporter dalam satu teritorial masih ada dan terus membara.

Persebaya dan Persela sama-sama berbagi satu angka. Aji Santoso dan Angel Alfredo Vera juga mungkin menikmati derai nostalgia tentang masa lalu mereka bersama Persebaya dan Persela. Bonek dan Lamongan Fans menyatu di senja yang hangat, ibarat kakak dan adik yang lama tak bersua.

Sial! di waktu yang bersamaan, gebetan saya memberi kabar. Sebuah cincin emas telah melingkar cantik di jari manisnya. Begitulah Tuhan, memberikan saya perasaan yang campur aduk hari ini.

Baca Juga

Aku Bonek di Tengah Puluhan Ribu The Jakmania

“Cemburu itu hanya untuk yang tidak percaya diri,