Kopi Terakhir untuk Persebaya

Kopi Terakhir untuk Persebaya

- in Opini
Ilustrasi. (sumber: Twitter @AJamaluddine)

BonekJabodetabek.com | Siang itu, Surabaya begitu panas, namun Joyo tetap memacu sepedanya. Seperti diburu waktu, Joyo terus saja mengayuh agar dapat sampai ke Stadion Gelora 10 November, Tambaksari, sebelum ashar. Sore itu, ada pertandingan kandang Persebaya, dan Joyo tak pernah ketinggalan untuk melihatnya. Meskipun rumah Joyo jauh, namun tak satupun pertandingan kandang Persebaya dilewatkan.

Rutinitas Joyo dalam mendukung Persebaya di kandangnya, hampir tak pernah berubah. Selepas dzuhur, Joyo mengayuh sepedanya dari rumahnya yang berada di barat Surabaya. Sebelum ashar, Joyo sudah mengantre tiket pertandingan, dan sebelum masuk ke stadion, selalu menyempatkan untuk bersilaturahmi dengan Bonek yang lain di sebuah warung giras yang berada di Stadion Gelora 10 November.
Kopi pahit adalah minuman yang selalu dipesan oleh Joyo. Oleh Joyo, kopi tersebut ditemani oleh beberapa ote-ote sebagai pengisi kembali staminanya yang habis karena perjalanan jauh dari rumahnya. Sebelum masuk ke stadion, Joyo di hadapan Bonek lainnya, selalu mempersembahkan tegukan terakhir kepada Persebaya, disertai dengan doa semoga Persebaya menang.
Namun siang ini lain, Joyo tak terlihat di sekitar stadion. Pemilik warung giras pun juga heran, karena tak biasanya Joyo tak mampir ke warungnya jika Persebaya bermain kandang. Gelas berisi kopi pun telah disiapkan pemilik warung karena kebiasaan Joyo selama ini, beberapa buah ote-ote pun oleh pemilik warung telah disisihkan untuk Joyo, karena Joyo hanya suka makan ote-ote, bukan gorengan lainnya. Bonek yang biasa berkumpul dengan Joyo di warung tersebut pun juga tak tahu di mana Joyo berada. Sore itu tak ada tegukan kopi terakhir untuk Persebaya.
Persebaya sore itu bermain tidak setrengginas seperti biasanya, padahal lawan yang dihadapi hanya tim papan tengah yang dalam kalkulasi pengamat, Persebaya akan mudah untuk menaklukkannya. Sampai peluit panjang berbunyi, Persebaya hanya bermain imbang. Di sepakbola Indonesia, imbang di kandang adalah kekalahan, karena itu Bonek ke luar ke stadion dengan muram, tak semeriah jika Persebaya menang apalagi dengan selisih gol yang besar.
Bonek yang biasa berkumpul dengan Joyo, seusai pertandingan dengan berjalan kaki lewat di depan warung giras di mana mereka biasa berkumpul. Pemilik warung memanggil mereka, ketika semua sudah berkumpul, pemilik warung bercerita, bahwa siang tadi Joyo mengalami kecelakaan, yang membuatnya tak sadarkan diri dan dibawa ke Puskesmas, namun dalam perjalanan nyawanya tak tertolong. Ironinya, Joyo ditabrak oleh Bonek yang ugal-ugalan di jalanan. Joyo yang melaju dengan sepeda anginnya ditabrak oleh Bonek yang kebut-kebutan dan tak menghiraukan rambu lalu lintas. Mendengar hal tersebut, teman-teman Joyo pun menangis. Sosok menyenangkan, telah meninggalkan mereka karena perilaku ugal-ugalan di jalanan. Tak ada lagi senyum Joyo, dan tak ada lagi tegukan kopi terakhir untuk Persebaya.
Catatan dari penulis: Ini hanya fiksi belaka, cerpen ringan yang saya tulis untuk mengisi waktu luang dan mengingatkan semuanya bahwa perilaku ugal-ugalan di jalan berpotensi untuk merugikan orang lain bahkan mungkin kawan atau orang-orang terdekat kita sendiri.

Baca Juga

Pertandingan Senin-Kamis Berpotensi Mematikan Klub Liga 2

BonekJabodetabek.com | Dari kabar yang beredar, pertandingan di