Manisnya Janji dari Lidah Tak Bertulang

Manisnya Janji dari Lidah Tak Bertulang

- in Opini

BonekJabodetabek.com | Manis itu adalah tebu, yang bisa dirasakan dengan lidah yang tak bertulang. Berbeda dengan sebuah janji, yang hanya bisa dirasakan dengan angan yang semu.

Kata pepatah “lidah tak bertulang”, sebagaimana janji mereka –elite PSSI– kepada fans Persebaya alias Bonek di saat Gruduk Jakarta jilid pertama, yang entah kapan itu tanggalnya saya sendiri lupa.

Banyak sekali taburan gula yang mereka berikan kepada Bonek. Dari pengakuan, hingga kembalinya Persebaya di kompetisi Divisi Utama, yang “katanya” akan dibahas di Kongres PSSI, 10 November yang lalu.

Tapi apa yang diterima, manis dari gula itu dicampur dengan garam yang begitu banyak porsinya, sehingga rasa manisnya tidak sesuai dengan yang apa Bonek harapkan.

Seketika suasana pun mulai memanas, dari yang di dunia nyata hingga di dunia maya. Sampai-sampai Surabaya pun disebut-sebut “Siaga 1”.

Terlepas dari sakit hati yang Bonek terima, rasa simpati dan empati pun bermunculan dari kalangan suporter Indonesia. Dengan cara memboikot laga klub mereka sendiri atau pun dengan membentangkan spanduk rasa kepedulian terhadap Persebaya dan Bonek.

Brigata Curva Sud yang akrab disebut BCS memulai aksi boikot laga klub mereka, PSS Sleman, yang melakoni laga tandang di Stadion Singaperbangsa Karawang, beberapa waktu lalu. Kurang lebih 5.000 suporter PSS itu memboikot dan hanya mendukung klub dari luar stadion. Mereka juga sempat mengumandangkan chant Emosi Jiwaku di Stadion Singaperbangsa.

Terlepas dari itu semua, dalam waktu yang akan datang, menyikapi diri sendiri, siapkah kita (Bonek) seandainya Persebaya kembali di kancah sepakbola negeri ini? Dan sanggupkah kita sebagai suporter memenuhi prosedur memasuki stadion jika Persebaya berlaga —no tiket, no game?

Biarlah waktu yang menjawab.

Baca Juga

Balada Logo Persebaya

Salahkah Persebaya bangkit lagi? Salahkah Bajol Ijo berkutik