Pengosongan Tribun dalam Perspektif Perjuangan Kelas

Pengosongan Tribun dalam Perspektif Perjuangan Kelas

- in Opini
Tribun penonton di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya. (Foto: emosijiwaku.com - Audee Photography)

BonekJabodetabek.com | Menjelang Blessing Games yang mempertemukan Persebaya melawan Serawak FA di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya (18/03/2018), muncul kegaduhan terkait naiknya harga tiket yang mencapai 42 persen dibandingkan dengan harga pada saat Liga 2 musim lalu bergulir.

Sampai dengan saat ini, belum ada rasionalisasi penjelasan dari pihak Official Persebaya mengenai kenaikan harga tiket tersebut.

Dari kacamata suporter, kenaikan harga sebenarnya dapat dimaklumi tapi tidak setinggi itu. Bagaimanapun Persebaya sekarang pendanaannya swasta murni, tidak lagi mendapatkan dana APBD. Kompetisi Liga 1 juga akan membutuhkan dana yang tidak sedikit. Akan tetapi jika kenaikan mencapai 42 persen, dengan skuad seperti sekarang, khususnya di sektor pemain asing yang afkiran, kemudian akses menuju GBT yang bagaikan neraka, juga fasilitas umum di GBT yang jauh dari layak, membuat kenaikan signifikan tersebut menjadi perlu dipertanyakan.

Tribun Green Nord dalam rilis mereka, mengumumkan akan mengosongkan tribun sebagai bentuk solidaritas kepada kawan-kawan Bonek yang masih belum mampu secara ekonomi. Tribun Kidul juga akan mengosongkan tribun mereka, hasil dari kesepakatan individu dan komunitas yang ada di dalamnya.

Sehingga menarik untuk dikaji (meskipun tidak secara mendalam), pengosongan tribun ini sebagai bentuk perjuangan kelas.

Lalu apa itu kelas?

Istilah kelas sendiri dalam ilmu sosial relatif baru. Menurut Philip P. Wiener, istilah ini baru muncul dalam bahasa Inggris dan Eropa Barat lainnya pada masa revolusi Industri. Istilah kelas sendiri berasal dari bahasa Latin Classis, yang digunakan untuk membeda-bedakan masyarakat berdasarkan kekayaannya.
Sedangkan para sosiolog, memberikan pengertian/definisi kelas sosial beraneka ragam, namun dapat ditarik satu benang merah, kelas sosial adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarchis). Adapun seseorang tergolong dalam satu kategori kelas sosial antara lain terkait dengan faktor ekonomi/penghasilan, pekerjaan, dan pendidikan.

Para pemikir umumnya membagi kelas di masyarakat menjadi dua kelas, yang kemudian dikenal sebagai konseptualisasi dikotomi, yang memandang struktur masyarakat terbagi atas lapisan atas dan lapisan bawah, kaya miskin, penguasa dan yang dikuasai, atau penindas dan yang ditindas. Semisal dalam konsep Marx, membaginya menjadi kelas proletar dan kelas borjuis. Namun, filsuf Yunani kuno Plato, adalah orang pertama yang menggunakan konsep ini, dimana ia mengatakan, “Setiap kota, walaupun kecil, pada faktanya terbagi atas dua: kotanya kaum miskin dan kotanya kaum kaya, di mana keduanya saling berperang satu sama lain.”

Selain konseptualisasi dikotomis, ada lagi yang membaginya menjadi tiga kategori yang dikenal sebagaj tripartite divisions atau konsep trikotomis. Konsep ini memiliki akarnya pada Aristoteles dimana dalam bukunya yang berjudul “Politics”, Aristoteles membagi masyarakat kota atas mereka yang sangat kaya, sangat miskin, dan mereka yang hidup di antara keduanya.

Konsep trikotomis sendiri oleh sejumlah Ilmuwan Sosial secara umum dibagi menjadi kelas atas, kelas menengah dan kelas bawah.

Di dalam konflik mengenai tiket ini, hipotesa mengenai kelas yang terlibat di dalam konflik dapat saya gambarkan sebagai berikut:

Kelas pertama, adalah pemilik modal, dalam hal ini adalah Badan Hukum yang menaungi Persebaya beserta jajaran manajemennya.

Kelas kedua atau kelas menengah, adalah Bonek yang ditandai oleh tingkat pendidikan atau penghasilan yang tinggi, dan mempunyai penghargaan yang tinggi terhadap kerja keras, pendidikan, kebutuhan menabung dan perencanaan masa depan, serta mereka biasanya terlibat aktif dalam kegiatan komunitas. Kelompok menengah ini, dengan kenaikan harga tiket sebenarnya tidak akan menjadi masalah karena mereka memang mampu secara ekonomi.

Kemudian, yang terakhir adalah kelas ketiga, kelas ini biasanya terdiri dari individu yang penghasilannya relatif lebih rendah sehingga mereka tidak mampu menabung, lebih berusaha memenuhi kebutuhan langsung daripada memenuhi kebutuhan masa depan.

Menarik untuk dicermati, dalam rilis mereka, Green Nord secara tersirat melakukan aksi pengosongan tribun atas dasar solidaritas terhadap Bonek yang kemampuan finansialnya masih keberatan dengan harga tersebut. Bagi saya ini merupakan sebuah kesadaran kelas dari kelas menengah yang kemudian turut serta dalam melakukan perjuangan.

Green Nord dan Tribun Kidul sendiri dihuni oleh banyak individu-individu meskipun tidak semuanya, yang secara ekonomi mapan dan tidak akan terimbas dengan kenaikan harga tiket sehingga mereka masuk dalam kategori kelas menengah.

Dalam pengosongan tribun, mereka memberikan peranannya sebagai kelas menengah yang mempunyai karakter mandiri. Bagi kelas menengah, kemandirian menjadi senjata mereka. Kemandirian ini memberikan kebebasan mereka dalam mengkritisi setiap kebijakan yang dirasa tidak tepat. Mereka memiliki keleluasaan dalam menentukan sikap dan juga mampu membentuk opini publik dengan cara masing-masing dan kekuatan yang berbeda-beda pula. Kemandirian secara finansial menjadikan mereka mapan secara ekonomi, yang akhirnya memberikan ruang bagi mereka untuk beropini dan bersikap. Kematangan secara ekonomi memberikan ruang untuk menuntut hak-hak yang sepertinya akan dicerabut dari Bonek yang secara finansial belum mapan.

Argumentasi logis dari sikap pengosongan tribun adalah tidak semua Bonek dalam kondisi yang mapan, Bonek terdiri dari banyak kalangan.

Kenaikan harga tiket, memang akan terasa berat bagi mereka yang bekerja serabutan atau yang belum mempunyai penghasilan sendiri atau yang secara ekonomi belum mapan.

Padahal mereka yang dalam kondisi belum mapan tersebut, selama ini juga turut dalam perjuangan mengembalikan Persebaya. Tak bisa dipungkiri, perjuangan di Geruduk Jakarta I dan II, kemudian Geruduk Bandung, dan perjuangan melalui aksi-aksi yang lain, banyak yang dilakukan oleh mereka yang secara finansial belum mapan dan mereka terlibat aktif di dalamnya, sampai harus membolos sekolah, kuliah dan kerja.

Menaikkan harga tiket dengan drastis bisa dipandang sebagai dibukanya ruang konflik antar kelas. Dengan harga tiket yang naik sampai 42 persen, menafikkan keberadaan Bonek yang secara finansial belum mapan atau dengan kata lain mereka yang dulu ikut berjuang dianggap tidak ada. Sungguh ironi jika kemudian mereka tak ‘menikmati’ hasil perjuangan tersebut.

Pengosongan tribun utara (Green Nord) dan tribun selatan (Tribun Kidul) jangan diartikan mereka tak mendukung Persebaya, jangan jadikan satu aksi untuk menghakimi, karena ketika Persebaya mati suri, mereka terus konsisten mendukung klub yang tak ada wujudnya. Bukankah ini kecintaan yang hakiki.

Aksi pengosongan tribun adalah bentuk dari perjuangan kelas, dan ini didasari oleh solidaritas kelas.

Bagi sebagian ilmuwan sosial, perjuangan kelas terjadi karena tersumbatnya komunikasi antar kelas. Dalam kasus Persebaya, sepertinya komunikasi antara pemilik modal dengan suporter di dalamnya baik yang ada di kelas menengah dan yang tak mampu secara finansial tak berjalan dengan baik.

Komunikasi yang terjadi adalah model komunikasi top down, tidak komunikasi dua arah. Pemilik modal seolah harus dimengerti ketika membuat sebuah kebijakan, namun tak mendengar apa yang menjadi keluhan konsumennya.

Sehingga tersumbatnya komunikasi tersebut perlu direspon dengan sebuah aksi agar dapat didengar, salah satunya dengan pengosongan tribun.

Lalu bagaimana dengan hasilnya? Harus dipahami bersama, bahwa setiap aksi tidak harus berhasil sesuai tuntutan, namun aksi pengosongan tribun ini dalam pandangan saya sudah cukup berhasil menyita perhatian pemilik modal dengan membuat surat terbuka di laman persebaya.id.

Hasil yang diharapkan memang tidak bisa serta merta diraih, karena itu butuh konsistensi sikap. Dan sikap pengosongan tribun adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan secara konsisten oleh seorang suporter. Sehingga perlu metode aksi lainnya.

Satu hal lagi yang perlu diwaspadai, jangan sampai aksi ini ditunggangi oleh pihak ketiga demi kepentingan mereka.

Terakhir, semoga tercapai sinergi yang baik di antara semua stakeholder Persebaya.

Yakinilah bahwa ini bukan karena benci namun ini karena cinta.

Bagi saya, solidaritas kelas ini, sudah sangat keren.

Baca Juga

Usut Tuntas Kematian Micko Pratama

BonekJabodetabek.com | Micko Pratama, remaja yang akan genap