Ultras, Hooligan atau Mania?

Ultras, Hooligan atau Mania?

- in Opini

Indonesia punya mania
Inggris punya hooligan
Italia punya ultras

BonekJabodetabek.com | Dari tiga julukan suporter di atas mungkin bagi saya (sebagai penulis) yang paling fanatik adalah mania. Karena dari pandangan pribadi saya dalam beberapa tahun ini banyak suporter yang mengedepankan budaya ultras dan hooligan. Tapi itu tidak masalah bagi kalangan suporter, karena di dalamnya adalah sama-sama mendukung klub sepakbola yang dicintai.

Tapi jika kita menggunakan ilmu “cocoklogi”, bisa saja ultras dan hooligan itu meniru budaya mania-nya Indonesia. Tidak bisa dipungkiri dari dulu suporter Indonesia itu sedikit nyeleneh, coba bandingkan dengan Inggris dan Italia. Saat pertandingan dimulai, para penonton duduk dengan rapi, chant tak begitu¬†menggema, hanya menonton saja tanpa kebisingan kecuali suara “kaget, gertakan dan peluit wasit”. Ya, mungkin kalau di Indonesia seperti nonton wayang ūüėÄ

Dan coba kita alihkan sudut pandang kita ke suporter Indonesia, awal muncul dunia suporter Indonesia memang masih seumuran jagung, masih sangat sangat dan sangat tradisional, beda jauh dengan usia ultras dan hooligan. Hampir sebagian besar mereka adalah maniak bola, sebenarnya suporter Indonesia sudah ada sangat lama tapi belum muncul ke permukaan. Dan pada sekitar akhir 1980-an, di Indonesia baru muncul tradisi away day (seperti di Inggris), yang diawali dari suporter Kota Pahlawan yang bernama Bonek (pendukung Persebaya Surabaya).

Bonek adalah suporter pertama yang mengawali dunia suporter Indonesia dgn tradisi tret..tet..tet.. (awayday), atau dalam kata lain mendukung klub ke luar kandang. Dengan gayanya yang urakan dan keras, mereka mendukung klubnya dengan modal dan nekat. Mendukung dengan nyanyian dan tarian serta teriakan penyemangat. Sangat beda jauh bukan dengan suporter Inggris dan Italia.

Di sini, saya memang bukan pelaku sejarah atau terlibat dalam sejarah suporter Indonesia, khususnya Bonek. Saya hanya memiliki ilmu yang setetes di lautan luas terkait sejarah dunia suporter. Saya bukanlah lulusan sarjana atau bergelar profesor, tapi hanya seorang kuli tamatan bangku sekolah. Tapi apa salahnya jika kita pemuda penerus bangsa untuk menggali dan mengetahui sejarah republik yang kita cintai ini. Serta menjaga budaya dan tradisi Indonesia yang tidak terhitung jumlahnya.

Dan siapa yang paling fanatik? Ultras, hooligan, atau mania? Atau mungkin ultras dan hooligan meniru Bonek mania. ūüėÄ

Dan semua itu kembali ke pendapat kita masing-masing, mau menggunakan budaya ultras dan hooligan, atau menjaga budaya mania-nya Indonesia. Toh dalam konteksnya adalah sama mendukung klub yang kita cintai, serta menjaga sejarah klub sepakbola kita.

Di carut marutnya gejolak sepakbola Indonesia yang telah tercampur dengan politik dan (ditengarai) match-fixing serta banyaknya mafia-mafia sepakbola yang telah mengobrak-abrik pertandingan dan merugikan klub dan pemain, sebagai suporter atau pendukung, kita wajib kritis atas masalah ini. Ingat kita adalah pemain ke-12. Dan kita pasti merasakan apa yang dirasakan klub dan pemain.

Salam Damai Indonesia Raya.
Rivalitas 2×45.

Tentang Penulis

Baca Juga

Manisnya Janji dari Lidah Tak Bertulang

BonekJabodetabek.com | Manis itu adalah tebu, yang bisa