Siapa Kami

BonekJabodetabek.com | Cerita berawal, ketika pada hari Selasa, tanggal 30 Juni 2009 beberapa Bonek yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya janjian bertemu di stasiun Gambir, Jakarta, dalam rangka hendak menonton kesebelasan sepakbola pujaan mereka yaitu Persebaya Surabaya, yang tengah berjuang di kota Bandung untuk berlaga melawan kesebelasan PSMS Medan pada partai hidup mati (playoff) karena pertandingan tersebut menentukan langkah kedua kesebelasan apakah akan berlaga di ISL (Indonesia Super League) atau tidak.

Tiada diduga, ketika berjalan menyusuri gerbong demi gerbong, mereka bertemu beberapa kawan lain yang juga mengenakan atribut dan aksesoris hijau khas Bonek. Suasana seketika berubah, layaknya seorang prajurit yang bertemu dengan rekan-rekannya setelah lama bergerilya di hutan belantara, mereka begitu haru sekaligus bangga. Akhirnya 8 orang Bonek bertemu dan berkumpul di dalam kereta menuju Bandung.

Begitu turun dari kereta, ke-8 Bonek tersebut langsung membeli kain panjang dan pilox (cat semprot), dengan spontanitas di kain yang telah dibeli tersebut mereka mencoretkan tulisan Bonek Jabodetabek. Sampai sekarang spanduk itu masih ada dan menjadi SPANDUK KERAMAT bagi Bonek Jabodetabek karena telah berkibar dan dibentangkan dimana-mana antara lain di Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Tangerang, Karawang, Semarang, Denpasar, Bontang, Palembang, Padang, Medan, dan Makassar.

Seperti diketahui, Bonek adalah suporter pertama di Indonesia yang mentradisikan away supporers (pendukung sepak bola yang mengiringi tim pujannya bertandang ke kota lain) seperti di Eropa. Jadi, jangan heran jika ketika Persebaya bertandang ke wilayah mana pun, Bonek Jabodetabek akan selalu berusaha mendampingi.

Sepulang dari Bandung, para Bonek asal Jakarta dan sekitarnya itu sering ngobrol dan berdiskusi di sebuah grup facebook bernama Bonek Batavia, setelah mengadakan pertemuan demi pertemuan dan dirundingkan bersama oleh anggota aktif grup facebook tersebut, akhirnya disepakati dibentuklah sebuah wadah resmi yang bernama Bonek Jabodetabek untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya dengan tujuan untuk mempererat serta mempermudah komunikasi dan koordinasi antar Bonek yang ada di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.

Seiring berjalannya waktu, anggota dari Bonek Jabodetabek semakin banyak, bahkan tidak hanya dari sekitar Jabodetabek, ada yang dari Cilegon, Banten dan Karawang, Jawa Barat. Anggota dari Cilegon akhirnya turut membesarkan Bonek di wilayah Banten dan ikut sebagai salah satu pencetus didirikannya Bonek Selat Sunda suatu wadah bagi Bonek yang berada di Provinsi Banten. Dan anggota dari Karawang karena faktor jarak yang cukup jauh, setelah didiskusikan membentuk Bonek Karawang. Namun meskipun sudah berdiri sendiri, komunikasi dan koordinasi terus berlanjut.

Anggota Bonek Jabodetabek sendiri terdiri dari berbagai unsur dan kalangan, ada yang bekerja di sektor swasta, PNS, Mahasiswa dan Pelajar, dan juga dari berbagai sektor pekerjaan yang lain, tapi satu yang pasti mereka semua adalah LOYALIS PERSEBAYA dan itu tak usah dipertanyakan lagi.

Yang membuat unik dari Bonek Jabodetabek adalah, anggotanya tidak hanya berasal dari Surabaya, tapi dari berbagai penjuru Jawa Timur seperti Jember, Madura, Sidoarjo, Gresik, Madiun, Magetan, Mojokerto, Pacitan, Tulungagung, dll. Bahkan ada juga anggota yang dari luar Jawa Timur, seperti dari Jawa Tengah dan Lampung, bahkan ada yang asli dari wilayah Jabodetabek.

Awalnya, Bonek Jabodetabek sering kongkow-kongkow di kawasan silang Monas. Namun keberadaan tersebut tercium oleh pihak-pihak yang tidak menginginkan kehadiran BJ. Maka kemudian, diputuskan untuk lebih fleksibel menentukan tempat berkumpul, guna menghindari ‘gesekan-gesekan’ yang tidak diinginkan, sesuai dengan salah satu Slogan Bonek Jabodetabek “TANPA ANARKI TAPI BERNYALI.”

Dengan eksisnya Bonek Jabodetabek di Jakarta dan sekitarnya, yang notabene adalah kandang macan dari Klub Rival, juga makin membuktikan bahwa slogan Bonek Jabodetabek “ MINORITAS GAK WEDI BLASSS!!” bukan hanya sekedar pajangan.

Meski di Ibukota, Hijau tetaplah Hijau!