Bonek di Luar Negeri Juga ‘Haramkan’ Persebaya United

Bonek di Luar Negeri Juga ‘Haramkan’ Persebaya United

- in BJ News
Salah satu aksi Bonek di markas FIFA di Swiss. (foto. ist)
Salah satu aksi Bonek di markas FIFA di Swiss. (foto. ist)

BonekJabodetabek.com | Bukan hanya Bonek dari Surabaya atau dalam negeri saja yang menolak keberadaan klub yang mengatasnamakan Persebaya di ajang Piala Presiden. Ya, para pendukung Persebaya sejak 1927 yang bermukim di sejumlah negara di luar Indonesia turut menegaskan penolakan digunakannya nama Persebaya di turnamen yang digagas oleh Mahaka Sports tersebut.

“(Ini) sudah kelewatan batas, saya sangat tidak setuju dengan keikutsertaan Persebaya United di Piala Presiden. Ini jelas benar-benar melanggar aturan yang dikeluarkan oleh BOPI sendiri, bahwa Persebaya 2010 jelas-jelas tidak lolos dalam verifikasi BOPI, tapi kenapa tetap dibolehkan bertanding? Seharusnya BOPI bertindak tegas dan mengambil keputusan yang bijaksana, lebih baik tidak ada sama sekali nama Persebaya dalam Piala Presiden,” tutur Budiono, Bonek yang tinggal di Jenewa, Swiss kepada BonekJabodetabek.com, belum lama ini.

Seperti diketahui, BOPI (Badan Olahraga Profesional Indonesia), yang pernah mengharamkan “Persebaya” di ajang ISL, telah melakukan kompromi dengan Mahaka Sports dan manajemen “Persebaya Gadungan” untuk meloloskan tim yang diharamkan oleh mayoritas Bonek itu dengan mengganti nama menjadi “Persebaya United” di ajang Piala Presiden.

Padahal, sebelumnya, perwakilan dari Arek Bonek 1927 sudah melakukan protes dengan cara baik-baik, yakni menemui secara langsung Tim Transisi, BOPI, Mahaka Sports, bahkan menyerahkan surat terbuka ke Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo di Istana Negara di Jakarta. Namun, aspirasi dari mayoritas pendukung Persebaya itu dianggap seperti angin lalu.

Sementara itu, Brian de Almas, Bonek asal London, Inggris, mempertanyakan sikap penyelenggara Piala Presiden, Mahaka Sports. “Ini jelas sangat menodai dunia persepakbolaan juga suporter Persebaya 1927 (yang orisinal), masa sih mereka para panitia tidak mengerti permasalahan yang terjadi di tubuh Persebaya sejak tahun 2010? Tentunya panitia Piala Presiden mengerti dan pasti ada sesuatu di balik penyelenggaraan Piala Presiden jika mereka meloloskannya!” jelas pria yang berprofesi sebagai Supervisor Food Safety Genji Sushi area Kensington High Street.

Di tempat lain, senada dengan Budiono dan Brian, Arif Triwahyudi sangat menolak keberadaan “Persebaya Gadungan” di ajang Piala Presiden. Akan tetapi, dalam hal ini, Arif lebih menyoroti ketegasan BOPI.

“Ini jelas-jelas tugas BOPI untuk menindaklanjuti, kan sebelumnya klub tersebut tidak diperbolehkan mengikuti ISL, terus sekarang kok diperbolehkan dengan hanya mengubah nama. Jika tetap diperbolehkan berarti telah mencoreng nama baik BOPI sendiri, dengan kata lain BOPI tdak konsisten,” terang Bonek yang bermukim di Yeongnam, Korea Selatan.

Kendati menolak nama Persebaya digunakan oleh kesebelasan gadungan, namun Bonek yang berada di negeri orang ini tidak mempermasalahkan jika menggunakan nama yang lain, seperti Surabaya United, Peskuba FC, Surabaya FC, atau Persikubar (sesuai dengan aslinya).

“Sepertinya pihak penyelenggara dan manajemen ‘Persebaya Gadungan’ ini mau melawak. Persebaya itu kan Persatuan (Sepakbola Surabaya), lha kok ditambah United, jadi tambah konyol dan maksa banget. Lagian nama Persebaya masih jadi sengketa dan masih dalam proses persidangan, lebih baik jangan pakai nama Persebaya-lah,” pungkas Azirani, Bonek wanita yang saat ini berada di Copenhagen, Denmark.

BonekJabodetabek.com

Baca Juga

Trigol Balde Antar Persebaya Raih Hattrick Kemenangan

BonekJabodetabek.com | Trigol yang dicetak Amido Balde ke