Fanatisme Negatif dan Perlawanan pada Penguasa (3-habis)

Fanatisme Negatif dan Perlawanan pada Penguasa (3-habis)

- in Kliping
Bonek bakal terus melakukan perlawan jika induk sepakbola Indonesia tak berhenti melakukan tindakan semena-mena. (Foto kaskus.co.id)
Bonek bakal terus melakukan perlawan jika induk sepakbola Indonesia tak berhenti melakukan tindakan semena-mena. (Foto kaskus.co.id)

BonekJabodetabek.com | Tak bisa dipungkiri bahwa perjalanan Bonek sebagai kelompok suporter yang luar biasa juga diwarnai dengan lembaran hitam. Rivalitas seringkali jadi alasan, namun banyak juga aksi-aksi kekerasan yang sama sekali tak terkait dengan sepak bola itu sendiri. Seperti yang diungkapkan sebelumnya, kenekatan suporter Persebaya saat melakukan tret-tet-tet misalnya, berbekal uang saku seadanya – kurang dari lima ribu pun tak akan mengebiri niat mereka untuk mendukung Persebaya di luar kota – membuat mereka berbuat semaunya, seperti tidak membeli tiket, menerobos masuk stadion, melakukan penjarahan di toko-toko.

Tetapi bisa dikatakan bahwa lembaran itu telah lewat. Energi negatif itu kini bertransformasi menjadi gerakan perlawanan pada penguasa PSSI. Semuanya bermula dari laga lanjutan Liga Super Indonesia (LSI) musim 2009/10 antara Persebaya vs Persik Kediri. Saat itu Persik Kediri yang bertindak sebagai tuan rumah tidak mendapatkan izin bertanding dari Polres Kota Kediri dan seharusnya Persebaya bisa dinyatakan menang WO. Namun, PSSI justru berbeda sikap. Mereka memaksakan laga kedua tim harus tetap digelar dan mengincar tempat netral, dengan Yogyakarta akhirnya menjadi tujuan. Tetapi Persik Kediri kembali gagal mendapatkan izin dan PSSI kembali ‘mengupayakan’ laga ini digelar di Kediri. Lagi, usaha ini gagal.

Pada 7 Agustus 2010, PSSI menunjuk Palembang sebagai tempat baru pelaksanaan pertandingan ini. Persebaya dan Bonek menolak datang hingga akhirnya dinyatakan kalah WO. Sulit untuk tidak tergelitik dengan pertanyaan apakah ada motif tertentu dalam sikap PSSI ini. Pasalnya hasil pertandingan antara Persebaya dan Persik Kediri akan mempengaruhi nasib Pelita Jaya, klub Nirwan Bakrie, Wakil Ketua Umum PSSI saat itu. Jika Persebaya gagal menang, Pelita Jaya bisa mengikuti laga play off – dan akhirnya mereka memang ‘berhasil’ mengikuti laga playoff karena Persebaya kalah WO – dan meraih kemenangan melawan Persiram Raja Ampat.

Buntut panjang dari peristiwa ini adalah dualisme Persebaya, yang memaksa Bonek melancarkan aksi Surabaya Melawan. Mayoritas Bonek tetap memilih setia bersama Persebaya pimpinan Saleh Ismail Mukadar dan menolak kehadiran Persebaya kubu Wisnu Wardhana yang saat itu diakui PSSI, namun kini sudah berganti nama menjadi Surabaya United.

Terhentinya penyelenggaraan kompetisi tandingan LPI yang digagas Arifin Panigoro yang menjadi kompetisi yang diikuti Persebaya Saleh Ismail Mukadar otomatis membuat Persebaya dan Bonek vakum. Pertandingan Persebaya pimpinan Wishnu Wardhana di kompetisi resmi PSSI tidak mendapatkan perhatian dari mayoritas Bonek yang merasa diperlakukan tidak adil oleh PSSI. Mereka memilih ‘menggantung syal’, mengutip istilah yang digunakan oleh salah satu Bonek yang juga teman saya, yaitu menolak memberikan dukungan pada Persebaya yang didukung PSSI.

Dalam sebuah wawancara singkat melalui pesan pendek dengan @bonekcasuals, saya meminta keterangan mengenai apa yang dirasakannya sebagai Bonek saat ini.

“Rindu tribun,” balasnya.

Saya terusik untuk menanyakan mengapa beliau bertahan dan benarkah ada intimidasi dari pihak-pihak tertentu sejak dualime Persebaya tercipta.

“Idealisme dan keyakinan. Tidak jarang juga salah satu organisasi massa (yang tidak bisa disebutkan namanya) mendatangi mess. Pernah mess disegel karena diobrak-abrik oleh mereka. Polisi hanya penengah agar tidak chaos.”

Pembicaraan kami berlanjut cukup panjang. Namun, ada satu kesimpulan yang bisa diambil: bahwa selama ketidakdilan bertahan, Bonek tak akan berhenti melawan.

Sumber: Four Four Two (Bonek: Lahir dari Media, Kini Melawan Penguasa)

Baca Juga

Bonek Jabodetabek Open Donasi untuk Cak Tulus

Assalamualaikum Wr. Wb. Bonek Jabodetabek open donasi untuk