Bodohnya Politisi yang Mempolitisasi Bonek Saat Ini

Bodohnya Politisi yang Mempolitisasi Bonek Saat Ini

- in Opini

BonekJabodetabek.com | Sepakbola dan politik memang dua hal yang berbeda. Namun pada kenyataannya kedua hal tersebut sering kali bertemu.

Sepakbola dan politik, bagi sebagian orang memang menggairahkan, karena keduanya memiliki unsur yang hampir sama yaitu: kompetisi, melibatkan banyak orang, taktik dan strategi, mendayagunakan potensi, dan pengharapan untuk menang.

Keinginan untuk menang/unggul dalam sebuah kompetisi ini kadang kala menggunakan segala cara, dan di titik inilah politik dan sepakbola bertemu di Indonesia.

Bonek sebagai suporter Persebaya memiliki jumlah massa yang fantastis dan militan, dari ujung timur sampai dengan ujung barat Indonesia, terdapat komunitas/indivividu Bonek.

Bagi politisi, Bonek pasti dipandang sebagai sumber suara yang potensial menjelang tahun politik sekarang ini.

Tak heran, beberapa politisi menjelang tahun politik bisa mendadak Bonek. Entah dengan menggunakan atribut Persebaya/Bonek, membikin baliho bertema Persebaya/Bonek, mendekati orang yang dianggap panu(t)an Bonek, dsb.

Tujuannya jelas, dengan mendadak Bonek diharapkan mendapatkan legitimasi dari Bonek yang kemudian akan memilih mereka dalam gelaran politik di tahun 2019.

Tapi, bisa saya katakan politisi yang mempolitisasi Bonek/Persebaya sekarang ini tidak cakap dan matang dalam berpolitik. Karena apa? Secara singkat bisa saya jelaskan sebagai berikut:

Pertama, dulu Persebaya memang lekat dengan politik mengingat status tim ini yang ‘Plat Merah’, namun Persebaya sekarang ini mulai dikelola dengan profesional dan berorientasi industri. Saya rasa, owner Persebaya sekarang akan menjauhkan Persebaya dari politik dan segala hingar bingarnya karena tak ada untungnya.

Kedua, setelah cobaan yang diterima Bonek dengan adanya cloning dan mati surinya Persebaya, membuat Bonek makin melek politik. Mereka paham, politiklah yang menghancurkan Persebaya, sehingga tak ingin hal tersebut terulang kembali.

Ketiga, Bonek sendiri kesadaran berpolitiknya makin tinggi, mereka sendiri tak ingin dimanfaatkan oleh sebagian politisi. Hal ini bisa dilihat dalam komentar-komentar Bonek di media sosial yang tak menginginkan politisasi atas diri mereka.

Keempat, saya rasa Bonek juga telah belajar, bagaimana mereka dulu ditinggalkan untuk berjuang sendirian dalam memperjuangkan Persebaya, para politisi yang telah jadi di legislatif maupun eksekutif tak berada di samping mereka. Habis manis sepah dibuang.

Dari keempat hal di atas, para Caleg cobalah berpikir ulang, gunakan strategi yang lain, jangan lagi mempolitisasi Persebaya/Bonek demi raihan suaramu. Bonek memang massa yang besar, namun tak berarti mempolitisasi Persebaya/Bonek bisa berbuah kemenangan.

Jangan sampai dengan manuver kalian yang mempolitisasi Persebaya/Bonek malah menjadi antipati pada kalian yang berakibat rendahnya raihan suara dalam pemilu.

Sebagai warga negara, Bonek pasti akan ikut berpartisipasi dalam pemilu. Bonek pasti juga dapat memilah mana politisi yang pernah berjuang bersama mereka apabila dasar pilihan mereka memang terkait dengan sepakbola.

Satu hal lainnya, di Indonesia mengkonversi kecintaan terhadap sebuah klub menjadi sebuah referensi politik bukan perkara gampang. Hal yang menurut saya sulit untuk dilakukan meskipun bukan hal yang mustahil. Karena, Persebaya/Bonek sendiri sangatlah plural. Tidak seperti pendukung klub Livorno yang berhaluan kiri, atau Ultras Lazio yang berhaluan kanan, atau Celtic dan Rangers yang berbasiskan agama.

Baca Juga

Selalu Makan Korban, Mengapa Estafet Sulit Dihentikan?

BonekJabodetabek.com | Setiap away, seringkali ada korban dari