Bonek dalam Perspektif sebagai Konsumen

Bonek dalam Perspektif sebagai Konsumen

- in Opini

BonekJabodetabek.com | Azrul Ananda pernah menulis bagaimanapun seorang suporter pada dasarnya hanyalah customer. Ya itu memang tidak salah, karena itu patut dikaji bagaimana Bonek diposisikan sebagai konsumen dari sebuah produk.

Persebaya sebagai entitas bisnis, menawarkan sebuah produk olahraga yang variannya bermacam-macam. Mulai dari tontonan, merchandise, dll, yang dikonsumsi Bonek selaku konsumen.

Kemudian mengapa pada akhirnya Bonek selaku pelanggan menjadi marah terhadap produk yang dihasilkan oleh Persebaya?

Dari sebuah penelitian yang dilakukan Survey One dikutip dari laman marketing.co.id, seorang pelanggan marah/tidak puas faktor utamanya adalah kualitas produk yang dikonsumsi.

Ketidakpuasan tersebut di dalam teori kepuasan pelanggan, karena adanya gap antara ekspektasi (expectation) dan persepsi (perception) atas sebuah layanan. Orang yang memiliki harapan besar dan kemudian mendapatkan pelayanan yang jauh di bawah harapan, dia akan merasa tidak puas.

Oleh karena semakin besar jurang keduanya, maka pelanggan akan semakin tidak puas. Hal sebaliknya bisa terjadi jika si pelanggan mempersepsikan bahwa layanan yang diterima sudah jauh di atas harapan dia. Secara teori si pelanggan ini tentunya akan merasa sangat puas.

Begitulah dengan Bonek, ternyata kecintaan terhadap suatu produk yang bernama Persebaya saja tidak cukup. Sebagai konsumen, mereka merasa kualitas tim Persebaya jauh dari ekspektasi mereka. Persebaya dari perspektif konsumen, adalah sebuah tim besar yang sarat prestasi, dan pantas untuk dikonsumsi dengan membeli tiket, merchandise, dsb. Namun ternyata, ekspektasi jauh dari kenyataan. Persebaya pada musim ini mempunyai kualitas produk yang buruk. Karena itu wajar, apabila konsumen (Bonek) tidak puas dan marah terhadap produk tersebut.

Rupanya, jika penulis boleh berasumsi, karena manajemen Persebaya tidak menjadikan tim Persebaya sebagai core bisnis itu sendiri. Padahal, di dalam bisnis sepakbola, core bisnis adalah tim itu sendiri. Mengenai merchandise, store, dsb adalah bisnis tambahan.

Apabila, manajemen menjadikan tim Persebaya sebagai core bisnis, maka yang akan dibangun dengan kualitas yang mumpuni adalah tim itu sendiri. Mulai dari rekrutmen pelatih, pemain, dan official penunjangnya. Tidak perlu harus berdrama-drama di tiap awal musim, mereka harusnya tau apa yang harus dilakukan untuk membangun tim (produk) yang berkualitas.

Untuk itu, mereka harusnya paham apa yang diinginkan konsumen mereka. Apa yang diinginkan konsumen, bisa dijaring melalui survei, analisis media sosial, dsb. Tidak bebal terhadap keinginan konsumen mereka, yang sebenarnya sangat mencintai produk mereka.

Kritikan konsumen, masukan konsumen, tolong dengarlah, jangan malah menganggap mereka adalah orang yang sok tau. Mereka mengkritik dan memberi masukan pada dasarnya karena kecintaan pada produk yang bernama Persebaya.

Jika pada akhirnya, produk yang bernama Persebaya mempunyai kualitas yang buruk, jangan salahkan konsumen yang marah. Semoga ini bisa menjadi evaluasi bagi semuanya.

Jakarta, 29 Okt 2019

Baca Juga

Sepakbola Bahasa Universal, Bukan Rendahkan Martabat Perempuan

BonekJabodetabek.com – Sepakbola meskipun identik dengan laki-laki, namun