Gerakan Bonek dalam Perspektif Anarkisme (2-habis)

Gerakan Bonek dalam Perspektif Anarkisme (2-habis)

- in Opini

BonekJabodetabek.com | Ada banyak sekali kelompok dan komunitas Bonek, (jumlahnya ribuan) mereka mempunyai otonominya sendiri, dari yang anggotanya ratusan orang sampai dengan hanya beberapa orang, bahkan banyak juga yang tak bergabung dalam salah satu komunitas. Tapi individu-individu dan komunitas tersebut dalam satu filosofi yang sama, mereka adalah pendukung yang disatukan dalam bendera Persebaya.

Dalam melakukan komunikasi, agitasi dan propaganda, Bonek memaksimalkan semua potensi media sosial yang ada. Mulai dari Facebook, Twitter, BBM (BlackBerry Messenger), Whatsapp, dsb. Hanya dengan media sosial, aksi-aksi demonstrasi, rapat-rapat akbar bisa dihadiri oleh ribuan orang.

Tak ada pemimpin dalam Bonek. Semuanya adalah anggota, semuanya adalah ketua. No leader just together. Hal inilah yang tidak dipahami oleh elit-elit politik sepakbola Indonesia. Mereka berpikir, ketika bisa membungkam atau membeli “pemimpin” Bonek, mereka akan memenangkan pertarungan ini. Namun mereka salah, meskipun ada yang “terbeli”, meskipun ada yang diintimidasi dengan kekerasan, namun selalu muncul figur-figur baru yang siap melanjutkan perlawanan terhadap PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia). Karena hal inilah, perlawanan Bonek bisa bertahan selama lima tahun dan sampai dengan sekarang ini.

Beragamnya latar belakang Bonek pun bisa dimanfaatkan dengan baik, ada pasukan “karak” (die hard Bonek) yang siap berhadapan dengan siapapun, ada pasukan keyboard yang siap melakukan agitasi dan propaganda di dunia maya, ada pemikir-pemikir Bonek yang bergerak di belakang layar, semuanya mengambil perannya masing-masing tanpa harus disuruh maupun diminta.

Puncaknya, tanggal 31 Juli sampai dengan 4 Agustus 2016, Indonesia gempar. Ribuan Bonek tanpa dikoordinasi bergerak menuju Jakarta, di mana Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI diselenggarakan. Kegemparan ini tidak dalam skala yang sama, mengingatkan pada munculnya Zapatista di Chiapas Meksiko.

Simpati pada gerakan Bonek pun mengalir, beberapa kelompok suporter mendirikan posko untuk Bonek yang menuju ke Jakarta. Donasi pun mengalir kepada Bonek untuk segala keperluan mereka di Jakarta. Masyarakat di sekitar Stadion Tugu (tempat di mana Bonek berkumpul selama di Jakarta) pun memberikan keramahan, logistik, dan senyum manis kepada Bonek.

Tujuan akhir perlawanan Bonek agar PSSI kembali mengakui Persebaya pun tampaknya akan berbuah manis. Dengan perlawanan tak kenal lelah dari Bonek, membuat PSSI kemungkinan akan menerima aspirasi Bonek. Sembilan dari 12 Exco PSSI telah tandatangan bahwa permasalahan Persebaya akan dibahas di Kongres Luar Biasa, Oktober mendatang di Makassar, Sulawesi Selatan.

Tentunya Bonek juga tak akan percaya pada janji-janji manis. Mereka berikhtiar akan mengawal proses KLB di Makassar sampai Persebaya kembali diakui.

Setelah ada sedikit titik terang mengenai nasib Persebaya. Sekarang gerakan Bonek sepertinya akan lebih konkrit lagi, politisi dan parasit di tubuh Persebaya akan dilawan. Kita tunggu bagaimana hasil dari perlawanan di internal Persebaya ini. Apakah Bonek bisa merebut kontrol terhadap klub kebanggaan mereka?

Menarik untuk ditunggu.

Baca bagian pertama: Gerakan Bonek dalam Perspektif Anarkisme (1)

Baca Juga

Selalu Makan Korban, Mengapa Estafet Sulit Dihentikan?

BonekJabodetabek.com | Setiap away, seringkali ada korban dari