Jangan Jadikan Persebaya sebagai Tim Sirkus

Jangan Jadikan Persebaya sebagai Tim Sirkus

- in Opini

Persebaya tidak masuk dalam 40 klub yang diundang tim transisi sampean-sampean gak gopoh.. sekarang Persebaya diundang trofeo Piala Bupati Probolinggo sampean-sampean malah gopoh kabeh.
Sepurane seng akeh dulur.. lek aku tetep lebih milih Persebaya main di kompetisi yang semestinya, duduk ujicoba seng gak jelas.
#KOMITMEN

BonekJabodetabek.com | Kutipan di atas adalah keluhan dari beberapa orang yang bisa disebut “dedengkotnya” Bonek. Saya copas (copy paste) dari akun sosmed (sosial media) Cak Joner.

Mungkin hal itu ungkapan kekecewaan dari beberapa orang yang memilih loyalitas tanpa menghilangkan totalitas. Di kala klub terbengkalai pihak manajemen malah memilih diam.

Tindakan memboikot, mau tidak mau harus dilakukan. Biarpun hal itu menyakitkan tapi itu adalah cara yang tepat untuk menunjukkan keteguhan dari jati diri suporter.

Sirkus lagi dan sirkus lagi yang selalu ditampilkan, seakan-akan itu hiburan yang kita tunggu-tunggu. Padahal kita ingin Persebaya kembali berdiri lagi. Berada di daftar liga liga Indonesia.

Di saat seperti ini suporter sangat dibutuhkan, dalam hal langkah ke depan klub sepakbola. Seperti halnya klub sepakbola asal Jawa Timur lainnya, Persik Kediri yang menjalani turnamen untuk menggalang dana dan melunasi utang. Klub dari provinsi DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta), PSS Sleman menggunakan cara penjualan kaos/merchandise klub PSS Sleman dan sebagian didonasikan kepada klub.

Tapi hal seperti itu terasa sulit bagi Bonek. Ingin menggunakan cara seperti Persik Kediri tak urungnya bagaikan sirkus keliling yang tak ada ujung bersambungnya, belum lagi gengsi yang terasa berat di mana klub raksasa di masa lalu harus melakoni laga uji coba dengan klub yang tak urungnya baru lahir. Dan jika menggunakan cara seperti suporter PSS, BCS (Brigata Curva Sud) yang menggunakan merchandise untuk membangkitkan klub itu juga terasa dilema.

Dilema bukan karena rugi atau tidaknya produsen, tapi karena manajemennya saja yang kurang akurat tentang kemauannya. Seperti yang diusulkan dari beberapa kawan Bonek, yang sempat mengusulkan membuat bed cover dengan motif Persebaya, dengan sebagian penjualannya disisihkan untuk melunasi utang pemain. Tapi manajemen malah memilih diam dan tidak bersuara. “Padahal dari pihak produsen sudah mengiyakan hal itu, tinggal keputusan manajemen saja,” ucap salah satu Bonek yang berada di salah satu kota yang terletak di Jawa Barat.

Dan jika manajemen tetap memilih untuk berdiam dan sembunyi, dengan cara apa Bonek memberi dedikasi kepada klub, memberi royalti untuk kelanjutan klub.

Semua itu kembali kepada kita masing-masing, menunggu Persebaya bangkit atau menunggu manajemen pergi dari kandangnya.

Baca Juga

Manisnya Janji dari Lidah Tak Bertulang

BonekJabodetabek.com | Manis itu adalah tebu, yang bisa