Memandang Bonek dari Sudut Pandang Lain

Memandang Bonek dari Sudut Pandang Lain

- in Opini
Dalam melakukan aksi di jalan, Bonek selalu menjaga ketertiban, yang ini tentu bertolak belakang dengan stigma negatif dari masyarakat. (Foto. Facebook Arek Bonek 1927)
Dalam melakukan aksi di jalan, Bonek selalu menjaga ketertiban, yang ini tentu bertolak belakang dengan stigma negatif dari masyarakat. (Foto. Facebook Arek Bonek 1927)

BonekJabodetabek.com | Akhir minggu ini Surabaya diramaikan oleh geliat aksi dari Bonek Mania—sebutan untuk suporter Persebaya 1927. Aksi ini dilakukan dengan cara konvoi sambil mampir dan melayangkan protesnya di berbagai anak perusahaan Mahaka Group yang berada di Surabaya. Aksi ini buntut dari kekecewaan Bonek terhadap Mahaka Group selaku operator Piala Presiden yang mancantumkan nama Persebaya United sebagai peserta. Bagi mayoritas Bonek, Persebaya United bukanlah Persebaya asli yang selama ini menjadi representatif kebanggaan warga Surabaya.

Aksi demonstrasi yang dilakukan Bonek ini bukan kali pertama. Tercatat, sejak tahun 2013 mereka konsisten memperjuangkan Persebaya 1927 yang merupakan Persebaya asli agar bisa diakui oleh federasi sepakbola negeri ini.

PSSI di bawah kepemimpinan La Nyalla Mattalitti justru mengakui Persebaya dari Divisi Utama yang sebelumnya merupakan klub Persikubar Kutai Barat. Tentu hal ini menjadi protes keras Bonek karena Persebaya 1927 tak diakui.

Hampir dua tahun lebih Bonek tak mendukung langsung klubnya berlaga, mereka konsisten menghimpun dan berjuang dengan segala cara agar Persebaya 1927 dapat kembali lagi dan juga mereka berjuang agar sepakbola Indonesia bersih dari segala intrik yang menyebabkan kerugian bagi sepakbola itu sendiri.

Hebatnya, selama perjuangan ini berlangsung tak ada kerusuhan maupun chaos yang terjadi, mereka selalu bisa menjaga ketertiban bahkan segala prosedur unjuk rasa dari perizinan aksi mereka lakukan. sungguh hal yang bertolak belakang dengan stigma masyarakat terhadap Bonek selama ini.

Kita bisa melihat bahwa banyak hal yang positif dari Bonek. Konsistensi perjuangan merupakan pondasi utama perjuangan itu sendiri. Uang tak sanggup membeli mereka. Bahkan, ketika persebaya palsu berlaga di Indonesia Super League dengan bintang sekalipun, boikot tetap mereka lakukan.

Hingga ada yang berkelakar bahwa jikalau Lionel Messi pun yang bermain untuk Persebaya Palsu maka mereka pun tak akan datang ke stadion, dan itu bukan hal tak mungkin di lakukan mengingat teguhnya pendirian mereka saat ini.

Mungkin ini bisa dibilang sebagai karma bagi Bonek, karena dulu perilaku mereka sempat melakukan tindakan negatif kepada warga maupun pedagang. Dan hal ini diamini oleh banyak pihak, namun seperti lirik lagu “Revolution start from my bad” menjadi cerminan keadaan Bonek.

Nah, dari hal yang buruk itu justru mereka sanggup menjadi suporter yang punya idealisme. Mereka bisa menjadi suporter yang cerdas dan tak bisa ditunggangi ataupun disetir oleh siapapun.

Bonek punya sejarah panjang. Bonek adalah suporter yang melakukan tradisi “Awaydays”pertama kali di Indonesia. Kala itu, pada final Perserikatan tahun 1986, rombongan suporter besar dari Surabaya berangkat ke Jakarta untuk mendukung Persebaya berlaga di Final. Bahkan ada yang sampai carter pesawat terbang untuk diisi oleh Bonek. Jalanan pantura pun kala itu macet seketika oleh ribuan rombongan Bonek.

Dan nama Bonek sendiri adalah pemberian dari Media Jawa Pos saat itu yang juga turut membantu keberangkatan bonek ke Jakarta.

Bonek memang pernah punya kisah kelam terkait tindak negatifnya. Tapi, tidak benar ketika kita memandang dari satu sisi. Bonek juga selalu mendambakan perdamaian. Beberapa rival sengit seperti Pasopati—suporter Persis Solo— dan beberapa suporter lainnya bisa berdampingan dengan baik. Meskipun klub yang dibela Bonek tak diakui oleh federasi.
Bonek bahkan hampir tak pernah absen mendukung Timnas Indonesia dimanapun berlaga. Hampir belasan bahkan puluhan Bonek terlihat ketika Indonesia berlaga di Malaysia ataupun di kota lainnya. Tersakitinya Bonek oleh federasi tak pernah sedikitpun sanggup menutup hati mereka untuk mendukung sepakbola Indonesia yang lebih baik kedepan.

Harapan itu muncul kembali pada laga persahabatan yang digelar dalam rangka memperingati ulang tahun Persebaya 1927 yang ke-88. Saya beruntung bisa hadir dan menyaksikan laga tersebut. Tangis sempat mengalir kala lagu selamat ulang tahun dari jamrud mengalun dan menggema di Gelora Bung Tomo.

Bonek dan eks pemain Persebaya 1927 rela berkumpul kembali dalam buaian romantisme. mungkin ini oase dari dahaga panjang akan rindu pada tribun yang terpenjara oleh bobroknya federasi.

Namun, pesta adalah pesta yang musti diramaikan. Dan Bonek sadar bahwa selesai pesta dengan segala kemabukannya, perjuangan harus tetap lanjut dan terus digalakkan.

Tulisan ini memang agak subjektif, meski selama ini media menjadikan Bonek sebagaibadboy atau sumber pemberitaan yang negatif tanpa pernah menjadikannya ‘cover both side’. Biarkan media pula yang menjadi tempat Bonek untuk mengutarakan pledoi mereka terhadap ketidakadilan yang terjadi. Karena selama ini mereka terkurung dalam stigma masyarakat yang diciptakan oleh media massa yang kadang tersirat unsur kebencian.

La Historia Me Absolvera, Sejarah yang akan membebaskan kita! Save Persebaya 1927!

 

Penulis: Indi Hikami
Sumber: mahasiswabicara.com

Baca Juga

Bonek Jabodetabek Open Donasi untuk Cak Tulus

Assalamualaikum Wr. Wb. Bonek Jabodetabek open donasi untuk