Memetakan Kembali Permasalahan Persebaya

Memetakan Kembali Permasalahan Persebaya

- in Opini

BonekJabodetabek.com | Dalam jangka waktu satu tahun ini, posisi kasus Persebaya bisa dikatakan berubah drastis. Di mana yang sebelumnya mati suri nyaris tanpa harapan, sekarang perlahan mulai ada titik terang. Sesuai pepatah, bahwa roda nasib terus berputar.

Tak ada yang menyangka, PSSI yang sudah bagaikan rezim diktator, hanya dalam hitungan bulan bisa dibekukan. FIFA, sebagai ‘pelindung’ PSSI, diguncang skandal hebat sehingga tak bisa lagi fokus membantu anak buahnya. Yang paling fenomenal adalah Menpora RI (Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia) sebagai kepanjangan tangan pemerintah, tak gentar menghadapi berbagai macam tekanan dan terus berupaya memperbaiki sepakbola nasional yang sudah di titik nadir kehancuran.

Berbagai kejadian di atas, secara tidak langsung mengubah posisi kasus Persebaya. Klub yang mengaku sebagai Persebaya sekarang harus menambahkan “United” di belakangnya, dan Persebaya yang sejati sudah bisa kembali bermain di Gelora Bung Tomo disaksikan puluhan ribu Bonek, suporter setianya. Namun ini baru awal, karena itu perlu diurai lagi pemetaan permasalahannya.

Pertama, tentu saja mengenai masalah legalitas. Nama Persebaya saat ini digunakan dan diperebutkan oleh dua badan hukum yang berbeda yaitu PT Persebaya Indonesia, badan hukum yang memang dibentuk untuk menaungi klub Persebaya dan PT. Mitra Muda Inti Berlian, badan hukum yang sebelumnya bergerak di bidang konstruksi, yang saat ini sedang diselesaikan melalui lembaga peradilan. Bagi Bonek sejati hal ini tak akan sulit, karena mereka bisa memilah mana yang patut didukung dan mana yang kloningan. Namun, bagi masyarakat awam dan pemerintah yang sedari awal memang tak paham dan mengikuti permasalahan Persebaya, legalitas menjadi satu poin yang sangat penting. Oleh karena itu, manajemen Persebaya harus all out untuk memenangkan sengketa perdata ini, apalagi merek dan logo Persebaya yang didaftarkan oleh PT Persebaya Indonesia kabarnya telah disahkan oleh Kemenkumham (Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia). Sehingga siapapun yang memakai nama dan logo Persebaya tanpa seijin PT Persebaya Indonesia bisa dituntut ke pengadilan, bahkan pidana ke kepolisian.

Yang kedua, di internal Persebaya sendiri. Selama ini, antara semua stake holder Persebaya seakan berjalan tidak sinergis. Antara owner (manajemen), klub internal dan suporter berjuang sendiri-sendiri. Tentu saja yang paling militan adalah Bonek, sedangkan manajemen terkesan adem ayem, jika tidak didorong dan terus ditekan oleh Bonek mungkin sampai dengan saat ini gugatan kepada PT Mitra Muda Inti Berlian pun juga tidak dilakukan. Klub internal pun begitu, seakan hanya sendiko dawuh pada salah satu owner, dan tidak punya kuasa. Dengan adanya momentum yang baik ini, komunikasi harus intens dilakukan, sehingga sinergitas bisa dicapai. Setelah itu, all out berjuang di pengadilan, fokus untuk memutar kompetisi internal dan membentuk tim untuk kompetisi yang akan datang daripada membentuk tim yang kesannya sekedar untuk sirkus dan meraup pundi rupiah.

Yang ketiga, tentu saja masalah federasi. Yang harus diingat, meskipun legalitas sah milik PT Persebaya Indonesia dan nantinya dikuatkan oleh putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap (inkracht), namun jika para pengurus PSSI masih dipegang oleh rezim saat ini, hal yang mustahil Persebaya akan dimasukkan dalam kompetisi yang akan datang. Akan ada seribu dalih, untuk tidak mengakui Persebaya. Karena itu, Persebaya harus bisa bersinergi dengan elemen lain, yang punya tujuan sama untuk perbaikan sepak bola nasional, sebisa mungkin menghadang kekuatan lama untuk masuk kembali ke kepengurusan PSSI jika nantinya pembekuan dicabut. Atau bahkan bersama-sama membentuk federasi baru yang bebas dari kekuatan lama. Menghormati Ir. Soeratin dan pendahulu kita yang telah membentuk PSSI tidak harus dengan mempertahankan nama PSSI, penghormatan yang lebih kekal adalah mewarisi semangat yang menginginkan bangsa Indonesia tidak kalah dengan bangsa lain melalui sepakbola.

Yang keempat, Pemerintah yang diwakili oleh Menpora. Kita patut berharap, Menpora tetap istikhomah dalam melakukan perbaikan sepak bola nasional, meskipun tekanan dari segala arah datang. Jangan sampai ada kompromi dengan anasir-anasir jahat yang memang tak menginginkan sepakbola nasional maju karena ingin terus dalam genggaman kelompoknya. Harapan kita sama, semoga Presiden terus mem-backup Menpora, karena kita paham, ada kekuatan yang sangat besar yang harus dihadapi oleh Menpora.

Jika keempat hal di atas berjalan sesuai harapan kita, kemenangan hanya menunggu waktu saja.

Bonek juga harus terus berbenah, mulai tinggalkan semua stigma negatif, karena Persebaya membutuhkan kecintaan anda dalam tindakan positif yang nyata.

Baca Juga

Bonek dalam Perspektif sebagai Konsumen

BonekJabodetabek.com | Azrul Ananda pernah menulis bagaimanapun seorang