Mengenang Bukan Berarti Memelihara Dendam

Mengenang Bukan Berarti Memelihara Dendam

- in Opini

BonekJabodetabek.com | Selang sehari pasca fenomena alam gerhana matahari yang terjadi pada 9 Maret, seluruh Bonek di jagat raya mengenang tragedi berdarah Lamongan. Ya, 10 Maret empat tahun yang lalu, dalam perjalanan tur (awayday) menuju Kota Bojonegoro guna mendukung klub kebanggaan, Persebaya 1927, sejumlah saudara kita dihujani batu dan bom molotov… keji memang…

Akibatnya, korban berjatuhan, lima orang Bonek tewas mengenaskan dalam tragedi tersebut. Pihak keamanan pun tidak mampu dan tidak bisa mengungkap sampai ke akar masalahnya. Entah itu diawali ulah kita Bonek sendiri atau warga atau bisa jadi oknum suporter. Memang di kala itu masihlah panas dan sengitnya permusuhan antara Bonek dengan pendukung Persela, LA Mania.

Pahit memang jika mengenang suatu tragedi. Tidak bisa dipungkiri dari beberapa kelompok Bonek mungkin masih ada yang merasa luka lama yang sulit untuk disembuhkan. Tetapi apa yang bisa kita perbuat? Nasi sudah menjadi bubur, tapi bubur lebih enak daripada nasi karena mudah untuk dicerna bagi siapa saja yang merasa sakit.

Bonek memang dianggap perusuh dan anarkis, dan maukah kita dicap lebih jelek dan hina lagi? serta menurunkan kepada anak cucu kita yang tidak ikut menanam benih kebencian itu. Dan anak cucu kita pula yang harus menelan pil pahit bermerek tragedi mematikan. Penulis sendiri dengan tegas akan menjawab “tidak”, dan mungkin sebagian orang pembaca juga akan menjawab dengan jawaban yang sama pula.

Mungkin pendapat pembaca akan mencemooh penulis dengan kalimat: “Enggak segampang itu bro, kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan!! Kamu bisa bilang tidak, tapi aku yang merasakan tidak akan bisa”. Susah memang jika dendam sudah mengalir bagai arus sungai. Tapi mari kita bayangkan, jika itu terjadi lagi pada anak kita yang satu-satunya kita cintai dan harus meregang nyawa karena ulah kita sendiri. Pasti kita semua tidak akan mau menerimanya kan?? Dan pada akhirnya tidak habis sebuah permasalahan jika tidak dari kita sendiri yang mengawalinya.

Di negara yang begitu luas dan berbeda warna, bahkan agama serta budayanya pula berbeda, namun ingat kita disatukan oleh tiga kata yang menjadi satu kalimat “Bhineka Tunggal Ika”, dan lagu yang masih sama “Indonesia Raya”. Di satu sisi negara Palestina yang sangat mahal akan perdamaian dan menginginkan sebuah ketentraman tanpa harus merasakan desingan peluru dan rudal, tapi kita seakan menyepelekan dan tidak menginginkan perdamaian itu.

Kita lahir di bumi ibu pertiwi, Indonesia. Diselimuti warna kain merah putih. Dikelilingi berjuta kenikmatan padi dan kapas. Diteduhi pohon beringin. Serta berjiwa banteng yang mampu memberontak dari penindasan, dengan cara bergotong royong bagaikan rantai yang kukuh. Dan diterangi berbagai bintang dari Tuhan Yang Maha Esa. Dan disatukan oleh Pancasila yang berlambang Garuda.

Akankah kalian mau jika di kemudian hari negara ini diselimuti awan hitam kebencian dengan suara tangisan sebagai petirnya dan hujan badai adalah peluru peperangan? Penulis sendiri tidak akan mau. Jika hal itu yang beberapa orang inginkan berarti kita adalah provokator yang mudah dikadali para mafia.

Musuh besar kita adalah kita sendiri, hawa nafsu dan dengki kita sendiri. Memanglah susah untuk melupakan, menerima adalah cara untuk melupakan. Apabila kita mau menerima, kita akan mudah untuk melupakan. Dan biarkan karma yang bertindak sebagai hakim, bukan malah kita yang menghakimi atau malah kita yang dihakimi.

#Rivalitas 2×45
#DamaiIndonesiaRaya.

Baca Juga

Manisnya Janji dari Lidah Tak Bertulang

BonekJabodetabek.com | Manis itu adalah tebu, yang bisa