Menjadi Bonek di Kandang Macan

Menjadi Bonek di Kandang Macan

- in Opini

BonekJabodetabek.com | Enam tahun saya bergabung dengan Bonek Jabodetabek dan delapan tahun sudah saya tinggal di Jakarta, selama itu pula banyak kenangan menjadi Bonek di “kandang macan”.

Tidak bermaksud apa-apa, namun tampaknya perlu juga pengalaman itu dituliskan sebagai kenangan.

Menjadi Bonek di tanah rantau tidaklah mudah apalagi di kandang macan yang notabene adalah rival dari Bonek. Ada saja provokasi, intimidasi, yang saya temui selama bekerja di Jakarta. Namun apakah saya kapok dan lalu meninggalkan atribut saya (Bonek)? jawabnya adalah tidak.

Sebagai contoh, di jalanan tak terhitung berapa banyak intimidasi yang saya peroleh ketika saya mengenakan atribut Bonek seperti kaos atau jaket, namun sampai sekarang saya tetap mengenakannya.

Di kantor pun, sebagian ada yang merupakan suporter rival, namun saya tetap menunjukkan identitas saya, dan akhirnya mereka mengakuinya dan saya dikenal sebagai Bonek di kantor.

Pada awal berdirinya Bonek Jaboetabek, tempat kumpul kami di Monas dan Senen menjadi incaran suporter tuan rumah. Namun apakah Bonek Jabodetabek bubar? kami masih solid hingga saat ini, dan sekarang incaran tersebut sudah hampir tidak ada lagi. Mungkin keberadaan kami di Ibu Kota sudah sedikit diterima.

Dalam konteks mendukung Persebaya, ketika tandang ke Jakarta dan sekitarnya pun begitu. Konsentrasi suporter tuan rumah selalu besar dan selalu membuat barikade untuk menghadang Bonek.

Di saat seperti itu, pekerjaan kantor pun kadang menjadi terbengkalai. Waktu habis untuk mengkoordinasikan atau mengkonsolidasi kedatangan kawan-kawan Bonek yang tret tet tet ke Jakarta. Ada tanggung jawab moral karena saya sendiri adalah Bonek yang berdomisili di Jakarta.

Pada saat lawan Persitara, kandang Persitara berada di kawasan Kuningan Jakarta Pusat. Suatu kawasan yang dikelilingi oleh komunitas The Jak. Untuk menuju ke sana harus menghadapi barikade suporter tuan rumah, pulangnya pun begitu. Jika kami tak punya nyali, tak mungkin kami akan menuju dan berada di sana karena perang batu pasti tak bisa dihindari.

Kemudian pada saat melawan Persija. Hampir tiga hari saya tidak tidur bersama anggota Bonek Jabodetabek yang lain, seperti Gegek dan Dewa. Karena kami terus berkoordinasi dengan kawan-kawan Bonek yang datang ke Jakarta. Kami melakukan penjemputan di Senen yang notabene juga merupakan kawasan suporter tuan rumah, untuk dibawa ke meeting point Bonek di Blok M. Jika tak punya nyali, kami tak akan melakukan hal tersebut, risiko tentu saja besar, namun Alhamdulillah akhirnya semua kawan Bonek bisa berkumpul semua di Blok M.

Selanjutnya, juga bikin sport jantung. Yaitu datang ke markas Persija untuk melobi agar kawan Bonek bisa masuk ke GBK. Kami hanya berdua saat itu, risiko untuk dihakimi massa tentu saja besar, karena saya datang dengan menggunakan atribut Persebaya. Saya masih ingat, saat itu semua mata yang ada di sana seolah ingin menerkam kami.

Akhirnya lobi berhasil, kawan Bonek diperbolehkan masuk ke GBK. Namun karena Persebaya sudah unggul dua gol saat itu, kawan Bonek yang lain memilih untuk nobar di Blok M. Karena sudah kepalang tanggung berada di GBK, kami sekitar 5-7 orang memutuskan untuk tetap masuk ke GBK.

Di dalam pun kami tidak hanya diam, ketika Josh Maguire mencetak gol kami bersorak sorai untuk merayakan gol tersebut di tengah puluhan ribu The Jak. Ketika Persija membalas tak pelak lemparan air minum mengarah ke kami. Apakah itu juga tidak membuktikan nyali kami?

Saat Persebaya vs Tangerang Wolves (Januari 2011). Kami selama beberapa hari stand by di Senen untuk menyambut kawan Bonek yang datang. Tapi di H-1 pertandingan bentrokan dengan suporter tuan rumah tak terhindarkan di stasiun Senen. Energi kami pun tercurah juga untuk melokalisir kawan Bonek di Tangerang, dan juga berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait mengenai kepulangan Bonek. Nyali saja tidak cukup kawan untuk semua itu.

Hubungan dengan suporter yang dianggap rival pada saat itu pun kami jalani. Di saat hubungan dengan Pasoepati dan Macz Man masih panas pun kami berani menemui mereka untuk berdiskusi. Yang akhirnya tercetus upaya perdamaian dari Jakarta, meskipun saat itu mendapat tentangan keras dari kedua kubu. Alhamdulillah sekarang hubungan Bonek dengan Pasoepati dan Macz Man baik kembali.

Kami pun juga pernah beberapa kali melakukan aksi di kantor PSSI, KONI dan Menpora terkait masalah Persebaya sejak 2010 lalu. Jika kami tak punya nyali, aksi tersebut juga tak akan pernah terlaksana, karena dilakukan di markas suporter tuan rumah.

Dengan kejadian di atas, apakah saya kesal atas intimidasi yang ada, sebagai manusia biasa tentu saja pasti ada perasaan itu. Namun apakah saya dendam? jawabnya tidak, saya tak ingin mewariskan dendam pada para penerus kami.

Terkait isu-isu mengenai Bonek Jabodetabek berdamai dengan The Jak, itu tidaklah benar. Memang ada beberapa anggota BJ yang pernah berkomunikasi atau futsal bareng, namun hanya sebatas silaturahmi. Saya sendiri malah tidak pernah bertemu dengan pentolan The Jak.

Proses perdamaian itu masih sangat panjang, masih diperlukan upaya-upaya masif dari kedua belah pihak jika memang menginginkan perdamaian, apalagi kami hanyalah bagian kecil dari keluarga besar Bonek, jadi biarlah waktu yang akan menjawabnya.

Itulah sedikit cerita yang bisa ditulis. Sebenarnya masih banyak cerita lain. Jika sekarang ada yang mempertanyakan nyali kami, cerita di atas adalah sedikit jawabannya. Di tanah rantau apalagi di kandang rival, nyali saja tidak cukup untuk bisa survive sampai sekarang ini.

 

Minoritas Gak Wedi Blas!!!
Tetap Hijau di Kandang Macan.

Baca Juga

Bonek dalam Perspektif sebagai Konsumen

BonekJabodetabek.com | Azrul Ananda pernah menulis bagaimanapun seorang