Nasibmu bagai di Ambang Prahara

Nasibmu bagai di Ambang Prahara

- in Opini

BonekJabodetabek.com | Selang beberapa hari akan diadakannya turnamen Piala Kapolres Probolinggo 2016, yang dijadwalkan pada 8-10 April ini, kehebohan pun terjadi. Salah satu klub asal Kota Sidoarjo, yang awalnya akan berpartisipasi, akhirnya mengundurkan diri dari ajang tersebut. Sebab musababnya sangat jelas, PSSI telah memberi ancaman terhadap klub itu.

Di kala prahara Persebaya yang tak kunjung reda, klub Surabaya United malah meminta Kapolres Probolinggo untuk tidak memberi izin terhadap berjalannya turnamen tersebut. Dan serta merta melarang Persebaya Surabaya menggunakan nama Persebaya dan meminta mengganti nama lain selain Persebaya.

Adilkah itu bagi bonek?
Sangat tidak adil, pada waktu bersamaan pula klub kloningan yang awalnya diisi para pemain Persikubar dan menamai dirinya Surabaya United itu juga mengikuti turnamen di Kota Ciamis. Dan sempat muncul foto yang memperlihatkan mereka menggunakan nama Persebaya pada baliho iklannya.

Ini bisa dibilang akibat dari kelambatan respons manajemen (Persebaya) yang tidak segera mengantisipasi segalanya secara tuntas. Manajemen yang mempunyai andil dalam masalah ini malah meremehkannya.

Akibat leletnya manajemen, pada akhirnya Persebaya lumpuh, pincang dan terseok-seok. Berjalan ke manapun akan terus dijegal. Entah terjun ke jurang, tersandung batu atau menginjak paku sekalipun. Bonek selaku bagian dari Persebaya pun ikut lumpuh, antara mendukung atau memboikot setiap laga turnamen yang diikuti Persebaya.

Bagaikan api abadi. Semangat fanatisme dan militansi Bonek untuk Persebaya yang tak pernah padam, selalu mendorong terus menerus kepada manajemen, supaya kecacatan pada tubuh Bajol Ijo lekas sembuh dan mampu berlari di rumput hijau.

Ibarat binatang, manajemen ini seperti siput dalam perlombaan lari. Berjalan sangat lambat, disalip berkali-kali pun dia tidak mempercepat, dan malah meremehkan. Bahkan didorong pun bukan malah mempercepat larinya tapi malah membebani dalam berjalannya.

Kupersembahkaan puisi untuk Persebaya:

Persebaya, nasibmu kini bagai di ambang prahara.
Banyak orang ingin melihat kau berlaga, tapi jutaan mafia menusukmu dengan senjata.
Persebaya, namamu telah mendunia, tapi mafia ingin kau lekas sirna.
Jika kau mati kan ku kubur jasadmu dalam kenanganku, jika kau hidup berdirilah dan hantamlah mukaku.

(Baca juga: Sajak untuk Saudara yang Hilang)

Baca Juga

Manisnya Janji dari Lidah Tak Bertulang

BonekJabodetabek.com | Manis itu adalah tebu, yang bisa