Persebaya, CLS Knights dan Surabaya Samator: Sebuah Paradoks

Persebaya, CLS Knights dan Surabaya Samator: Sebuah Paradoks

- in Opini
Tim basket asal Surabaya, CLS Knights berhasil menjadi juara IBL 2016. (foto iblindonesia.com)
Tim basket asal Surabaya, CLS Knights berhasil menjadi juara IBL 2016. (foto iblindonesia.com)

BonekJabodetabek.com | Pada Mei 2016 ini, publik Surabaya bersuka cita. Bagaimana tidak, dua klub yang berlaga di kompetisi teratas nasional tampil sebagai juara. Surabaya Samator mengawalinya dengan menjuarai Proliga lewat kemenangan atas Jakarta BNI 46 di final. Disusul kemudian, CLS Knights menjadi juara IBL, setelah menundukkan Pelita Jaya di partai puncak.

Dua tim tersebut adalah tim profesional yang mewakili Surabaya di cabang bola voli dan basket. Sebenarnya di cabang sepakbola, ada Persebaya yang mewakili.

Lalu apa persamaan dari ketiga klub tersebut? Ya, mereka adalah tim yang dikelola secara profesional.

Namun mengapa prestasinya begitu berbeda? Surabaya Samator seringkali menjadi juara pada turnamen atau kompetisi voli. CLS Knights juga pernah menjadi runner-up, dan akhirnya ke luar sebagai juara IBL, selain langganan empat besar. Sedangkan Persebaya?

Semenjak Persebaya dikelola oleh PT Persebaya Indonesia mulai tahun 2009, prestasinya adalah:
1. Adanya dualisme terhadap nama klub Persebaya.
2. Tunggakan gaji terhadap para pemain dan pengurus dengan nilai miliaran rupiah.
3. Klub Persebaya tidak diakui oleh PSSI.
4. Yang paling parah, praktis sejak tiga tahun yang lalu Persebaya mati suri tidak berlaga di kompetisi manapun.

Sama-sama profesional, namun bisa begitu kontradiktif. Padahal potensi sepakbola di Surabaya begitu luar biasa. Jika benar-benar dikelola secara profesional merupakan kekuatan yang dahsyat.

Jika di cabang basket dan voli saja, Surabaya bisa begitu digdaya, tentunya sepakbola bisa lebih lagi. Jika dikelola secara amatir saja, puluhan tropi telah terpajang di wisma Eri Irianto, tentunya jika mengaku profesional, tropi-tropi tersebut akan terus bertambah. Minimal konflik bisa diselesaikan tidak berkepanjangan. Namun kenyataannya?

Ada yang berkata, Persebaya juga juara dalam perlawanan. Ya itu memang benar. Sebagai sebuah nama besar, Persebaya adalah ikon perjuangan melawan hegemoni PSSI. Akan tetapi, benarkah ini andil besar pengurusnya? Tunggu dulu, praktis selama tiga tahun ini, Bonek yang berjuang, sedangkan pengurusnya adem ayem saja. Tak ada gebrakan yang berarti untuk menyelesaikan konflik.

Menilik hal-hal di atas tentunya ada yang salah dengan pengelolaan PT. Persebaya Indonesia. Untungnya di Indonesia, tak ada budaya harakiri, sehingga mereka yang dulu terlibat PT. Persebaya Indonesia sampai sekarang masih tak punya rasa malu. Bukan begitu?

Tentang Penulis

Baca Juga

Bonek dalam Perspektif sebagai Konsumen

BonekJabodetabek.com | Azrul Ananda pernah menulis bagaimanapun seorang