Persebayaku, Persebayamu, Persebaya Kita Semua

Persebayaku, Persebayamu, Persebaya Kita Semua

- in Opini
Ilustrasi logo Persebaya. (foto: fandom.id)
Ilustrasi logo Persebaya. (foto: fandom.id)

BonekJabodetabek.com | Malam sedikit mendung menyelimuti langit Ibukota Jakarta. Sorot lampu kilat bak lampu selfie para malaikat yang beberapa menit menyambar awan yang pekat.

Dunia sepakbola tanah air beberapa hari ini diguncang berita penangkapan Ketua Umum (beku) PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia), Haji La Nyalla Mahmud Matalliti, yang tersandung kasus korupsi dana hibah Kadin Jawa Timur. Bagaikan petir di siang bolong, publik khususnya beberapa suporter yang gila bola sedikit kaget akan pemberitaan itu, di kala kisruh sepakbola yang tak kunjung reda. Dan harapan liga bergulir kembali malah berita dana korupsi dan episode pemimpin di jeruji besi bakal terulang kembali. Lain media lain pula arah beritanya.

Hampir bersamaan mencut juga kabar akan diadakannya rembugan (pertemuan) perihal Persebaya ke depannya. Yang rencananya akan dilaksanakan di Surabaya dalam waktu dekat ini.

Rembugan yang akan dihadiri oleh manajemen, seperti Cholid Goromah sebagai CEO PT Persebaya Indonesia beserta stakeholder dan klub-klub internal yang ada di dalam Persebaya serta beberapa perwakilan dari Bonek. Acara yang dikoordinasi Mauritz B Pangkey ini membahas “Persebaya ke Depannya Akan seperti Apa?”

Mungkin dengan adanya rencana seperti itu, kawan-kawan ada yang ingin menyampaikan uneg-unegnya atau pendapatnya akan seperti apa dan dengan bagaimana kita bersama menjaga dan mengelola keuangan Persebaya jika sudah dibangunkan kembali.

Semisal royalti dari merchandise, di sini saya tidak berniat untuk menyindir atau lain sebagainya, melainkan hanya menuliskan apa yang saya pikirkan. Logikanya, apa mungkin banyaknya Bonek di jagat raya ini yang begitu meminati merchandise sekaligus replika jersey tidak bisa membantu atau mendanai keuangan klub? Padahal Tidak terhitung jumlahnya bisa sampai berapa.

Selama ini mungkin ada yang berniat memberikan sebagian royalti penjualan kepada klub, tapi hal itu seakan masih abu-abu, mungkin karena keadaan yang sangat kisruh dan panas dengan manajemen. Belum lagi konsumennya yang sebagian besar adalah fans fanatik atau yang bisa dikatakan “atribut mania”, mereka mungkin tidak melihat akan hal itu. Yang terpenting bisa mengoleksi segala hal tentang Persebaya dan bergaya. Dan ini bisa sekaligus dijadikan sumber harta yang melimpah bagi tukang-tukang jiplak desain yang tak mengiraukan masalah serta kondisi yang sedang terjadi dalam diri Persebaya.

Tapi hal apapun dalam rapat itu yang terpenting adalah bagaimana agar utang-utang manajemen yang menunggak masalah finansial bisa terlunasi, sehingga Persebaya bisa kembali lagi mengikuti ajang kompetisi yang layak. Meskipun liga yang diidam-idamkan masih sebatas harapan karena federasi masih dibekukan oleh pemerintah.

Dalam hal ini, Bonek tidak merengek atau meminta agar Persebaya bisa ikut liga-liga seperti ISL secara gratis. “Memulai dari bawah pun akan kami dukung”, yang terpenting adalah Persebaya bangkit dari “sakit” yang diderita bertahun-tahun dan bebas dari unsur politik. Dan sekaligus (kemungkinan) berdirinya federasi baru yang becus mengelola sepakbola, bukan malah mengangkat pamor politiknya dengan andalan “kitab” statuta FIFA dan PSSI.

Semoga saja dalam pertemuan itu tidak hanya diberi angin surga saja atau sebatas omong kosong oleh Cholid Goromah, melainkan kelanjutan yang serius untuk kiprah Persebaya ke depannya. Dan semoga rapat-rapat yang akan dilaksanakan besok hari tidak ada campur tangan oleh partai politik.

“Persebaya For You and Me, Not For Fucking Industry”

Baca Juga

Manisnya Janji dari Lidah Tak Bertulang

BonekJabodetabek.com | Manis itu adalah tebu, yang bisa