Seberapa Serius Manajemen Persebaya Ingin Setop Budaya Estafet? (2)

Seberapa Serius Manajemen Persebaya Ingin Setop Budaya Estafet? (2)

- in Opini

Bagian 2: Pengantar untuk Manajemen Persebaya

BonekJabodetabek.com | Tak bisa dipungkiri bahwa budaya estafet dalam mendukung Persebaya, lahir dan tumbuh dari rahim Bonek itu sendiri. Mayoritas Bonek (termasuk saya dan orang-orang yang sekarang sudah meninggalkan budaya ini) pernah merasakan bermodal pas-pasan untuk berangkat ke kota orang, demi Persebaya!

Bodoh? Ya. Barangkali memang bodoh. Tetapi kebodohan itu lahir dari cinta yang begitu besar kepada Persebaya. Dahlan Iskan pada tahun 2008 dalam sebuah artikel berjudul ‘Menghitung Masa Depan Persebaya (1)’ pernah menguliti fenomena ini. Dalam tulisannya, Mantan Menteri BUMN itu berkisah tentang seorang pengusaha yang dimintai uang senilai harga karcis stadion oleh Bonek yang menggerombol di pinggir jalan. Dahlan menyebut bahwa si pengusaha ndongkol sekali karena merasa diperas.

Di hadapan sang pengusaha yang juga temannya itu, Dahlan tidak ikut-ikutan marah ke Bonek. Sebaliknya, dia pasang badan dengan menjelaskan logika cara berpikir si Bonek.

“Begini: di dalam hati suporter itu, dia tidak merasa lagi memeras. Dia merasa sedang berjuang untuk mendukung Persebaya. Saya membedakan antara mendukung dan menonton. Kalau menonton, dia harus punya uang. Tapi, kalau mendukung, bisa harus punya uang, bisa juga hanya bermodal nekat. Inilah asbabun nuzul-nya istilah Bonek,” tulis Dahlan.

Dia lantas menjelaskan, suporter itu berpikir: “Mengapa untuk membela Persebaya hanya dia (Bonek) yang harus berkorban (jalan kaki, teriak-teriak, berpanas-panas, dlsb)? Mengapa yang punya uang seperti teman saya (pengusaha) itu tidak ikut berkorban untuk Persebaya-kita? Dia berpikir, teman saya itu mungkin tidak punya waktu untuk mendukung Persebaya dengan cara datang ke stadion. Maka, biarlah dia yang datang ke stadion, tapi uangnya harus dari teman saya itu. Dia berpikir sudah seharusnya siapa pun warga Surabaya memberikan dukungan ke Persebaya”.

Dikatakan Dahlan, di dalam masyarakat, ada dua logika yang bertentangan. Si korban pemerasan punya logika, kalau mau nonton, ya harus punya uang. Suporter itu punya logika, semua orang Surabaya harus mau berkorban untuk Persebaya. Kalau tidak mau berkorban waktu dan energi fisik, apa salahnya berkorban uang? Toh, kalau Persebaya menangan, yang bangga bukan hanya dia, tapi semua orang Surabaya.

Lagi-lagi, semua bermula karena cinta. Namanya cinta, mengutip Gombloh, ‘kalau cinta sudah melekat, tahi kucing rasa cokelat’. Bodoh bukan? Persoalan yang kemudian timbul adalah, kebodohan akibat cinta ini pada akhirnya menimbulkan kerugian bagi orang lain.

Dahlan Iskan punya modal berharga, memahami persoalan ini dan mampu berempati untuk selanjutnya lebih berpeluang menemukan solusi. Sayangnya, saya belum yakin pemahaman serupa dimiliki Bos Persebaya saat ini, Azrul Ananda, yang bahkan pernah mengaku darahnya masih setengah hijau.

(Bersambung ke Bagian 3: Budaya Estafet di Persimpangan Zaman)

Sebelumnya:

Bagian 1: Hantu Rutinitas Laga Tandang

Muhammad Choirul Anwar
Pria yang mencintai Persebaya dengan sederhana

Baca Juga

Seberapa Serius Manajemen Persebaya Ingin Setop Budaya Estafet? (4/habis)

Bagian 4 (Terakhir): Sebuah Kompromi yang Semoga Solutif