Seberapa Serius Manajemen Persebaya Ingin Setop Budaya Estafet? (3)

Seberapa Serius Manajemen Persebaya Ingin Setop Budaya Estafet? (3)

- in Opini

Bagian 3: Budaya Estafet di Persimpangan Zaman

BonekJabodetabek.com | Faktor utama pendorong budaya estafet adalah karena modal pas-pasan, tetapi memaksakan diri berangkat demi Persebaya. Dulu, banyak alternatif untuk memaksakan diri. Kereta Api masih bisa dibayar dengan ucapan terima kasih, dan banyak variannya.

Tinggal pilih: kereta penumpang atau beberapa jenis kereta barang yang dalam sehari bisa empat sampai lima kali perjalanan. Jika di badan kereta sudah tak muat, masih bisa duduk atau tiduran di atas gerbong!

Sekarang? Satu-satunya pilihan hanya estafet dari truk-truk sampai tiba di lokasi tujuan. Maka, dulu keberangkatan Bonek relatif lebih bisa dipantau. Cukup menyiagakan aparat di tiap stasiun, niscaya kriminalitas tidak akan terjadi.

Lain dulu lain sekarang. Estafet dari truk ke truk seakan mustahil terpantau, sebab tidak jelas jadwal berangkatnya, di mana titik kumpulnya, dan berapa banyak massanya. Di antara yang tulus mendukung Persebaya, terdapat pula yang sengaja memanfaatkan momentum untuk memperkaya diri dengan cara berbuat kriminal. Praktis, pergerakan semakin sulit dipantau.

Dulu, ‘pejuang estafet’ ini juga hanya berpikir bagaimana cara untuk tiba di lokasi pertandingan. Sesampainya di lokasi pertandingan, selalu ada yang menyiapkan tempat untuk tidur, makan, dan diupayakan masuk stadion gratis.

Ya, saya tidak begitu tahu bagaimana semua itu bisa terjadi, siapa yang membiayai, dan seterusnya. Yang saya tahu, saat itu ada orang-orang yang selalu berkoordinasi secara intensif dengan pihak tuan rumah, serta memikirkan bagaimana nanti jika Bonek sudah tiba di stadion.

Yang jelas, semua bisa makan, bisa masuk stadion tanpa harus memaksa jebol pintu, dan setelah pertandingan pulangnya diantar sampai Surabaya dengan patwal! Di Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, atau di manapun, selalu saja transportasi untuk pulang sudah siap setelah pertandingan. Ajaib.

Keajaiban itu yang lama-kelamaan membuat Bonek seperti dimanjakan. Maka budaya estafet tetap menjadi alternatif hemat saat laga tandang. Dan sekarang, berbagai jaminan itu tak ada lagi. Bonek estafet masih harus berusaha sendiri untuk pulang, dengan cara yang mereka bisa.

Di sinilah perbedaan budaya estafet dulu dan sekarang. Ada perubahan kondisi yang seakan mendadak. Mereka, termasuk saya, yang tadinya selalu dimanja tiba-tiba harus menghadapi situasi yang mau tidak mau tetap dijalani.

(Bersambung)

Sebelumnya:

Bagian 2: Pengantar untuk Manajemen Persebaya

Muhammad Choirul Anwar
Pria yang mencintai Persebaya dengan sederhana

Baca Juga

Solusi Anda: Semua Bisa Jadi Bisnis

BonekJabodetabek.com | Profesionalisme manajemen Persebaya tak perlu dipertanyakan.