Seberapa Serius Manajemen Persebaya Ingin Setop Budaya Estafet? (4/habis)

Seberapa Serius Manajemen Persebaya Ingin Setop Budaya Estafet? (4/habis)

- in Opini

Bagian 4 (Terakhir): Sebuah Kompromi yang Semoga Solutif

BonekJabodetabek.com | Mari berasumsi bahwa sebagian Bonek bersama manajemen Persebaya sepakat menghentikan estafet. Di sisi lain, sebagian lainnya tentu masih ada yang menolak kesepakatan itu dengan berbagai argumentasi yang ujung-ujungnya atas nama cinta.

Pada akhirnya, akan ada polarisasi dua kubu: proestafet dan antiestafet. Pada gilirannya, perdebatan di media sosial bisa jadi terseret ke dunia nyata. Terlalu mahal harga yang harus dibayar jika sampai terjadi pertumpahan darah, yang disebabkan oleh perbedaan kemampuan untuk mendukung Persebaya.

Apalagi, kita semua tahu mereka yang estafet bukanlah orang-orang yang bisa diatur dengan mudah. Di banyak pertandingan tandang, mereka sudah sering dilarang datang. Penjagaan berlapis selalu disiagakan aparat di tiap batas kota yang jalurnya dilalui. Toh nyatanya masih bisa sampai di tempat tujuan, dengan jumlah ribuan!

Semakin dilarang, mereka semakin bersemangat untuk menunjukkan kelihaian mereka menerobos penjagaan berlapis. Saya khawatir, jika manajemen Persebaya dan Bonek sendiri yang justru gencar mengampanyekan larangan, mereka bisa jadi lebih bernafsu membangkang.

Saya khawatir pembangkangan itu kian memantapkan tekad mereka, bahwa “sing isok ndukung Persebaya gak koen tok. Aku yo isok masio gak sugih koyok koen“. Pada akhirnya, polarisasi semakin nyata menjadi ‘aku’ dan ‘koen‘. Bukankah seharusnya ‘aku’ dan ‘koen‘ adalah ‘kita’?

Tak terelakkan, kita semua pernah punya pengalaman kelam yang tidak perlu saya detailkan dalam tulisan ini. Namun kenangan buruk akibat beda sikap yang berujung pertumpahan darah di masa lalu itu harusnya cukup untuk dijadikan pelajaran agar jangan sampai terulang, bahwa perbedaan pendapat tidak harus diributkan dengan adu otot. Kabeh Bonek satu nyali WANI!!!

Percayalah, para ‘pejuang estafet’ tidak perlu repot-repot lompat dari satu truk ke truk berikutnya hingga tempat tujuan, jika mereka memiliki alternatif lain. Persoalannya adalah mereka tidak punya cara lain dalam mengekspresikan dukungannya untuk Persebaya.

Karena itu, perlu ada alternatif yang diusahakan bersama sebagai solusi, mulai solusi jangka pendek hingga jangka panjang yang golnya adalah tidak ada lagi budaya estafet. Bagaimana pun, yang harus menjadi ‘nakhoda’ dalam menjalankan langkah konkret adalah manajemen Persebaya.

Perlu dibentuk tim khusus di jajaran manajemen Persebaya untuk mengatasi mobilisasi suporter saat laga tandang. Tim ini harus dipimpin seorang profesional (bukan dari kalangan internal Bonek), namun memiliki pemahaman mendalam tentang budaya Bonek, serta mampu menunjukkan empati terhadap apapun yang akan dihadapinya.

PR (pekerjaan rumah) bersama yang paling prioritas harus dirampungkan adalah menyediakan transportasi terjangkau bagi ‘pejuang estafet’ agar mereka tak lagi estafet. Mereka harus dikumpulkan dalam satu rombongan tanpa terpisah, sejak berangkat hingga pulang.

Away Bali pada 2011 dalam kompetisi Liga Prima Indonesia (LPI) bisa menjadi contoh. Tentu kita masih ingat, puluhan bus dan kendaraan pribadi begitu tertib beriringan dari Surabaya sampai Bali, sampai pulang lagi. Indah sekali.

Saat itu, saya bermimpi tradisi seperti itu bisa terjaga di momentum-momentum away berikutnya. Sayangnya, saya hanya bermimpi. Memang, saat itu Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini memberikan bantuan transportasi gratis berupa puluhan bus.

Saat itu meski busnya gratis, namun Bonek yang mau ikut tetap diwajibkan membayar dengan nominal Rp 50 ribu. Angka itu digunakan untuk keperluan makan selama perjalanan dan tiket stadion. Alhasil, tidak ada penjarahan, semua bahagia.

Tentu kita tidak bisa terus berharap ada bantuan transportasi gratis dari Pemkot Surabaya. Sebab Persebaya adalah sebuah perusahaan swasta yang sudah bukan jadi tanggungan APBD Kota Surabaya. Karena itu, penyediaan transportasi gratis ini menjadi tanggung jawab tim khusus yang dibentuk manajemen Persebaya ke depan.

Sayangnya, saya yakin manajemen Persebaya buru-buru menolak solusi ini karena sudah pasti dalam hitungan bisnis, keuangan tim akan jebol. Lalu bagaimana? Jalan buntu? Tidak!

Sebagai entitas bisnis, pendapatan Persebaya tidak hanya dari penjualan tiket pertandingan dan atribut resmi Persebaya Store. Jangan lupa, Persebaya punya peluang dapat duit dari sponsor. Dengan jumlah suporter yang begitu besar, tentu tidak sulit bagi Persebaya cari sponsor.

Coba lihat, berapa brand yang menempel di jersey Persebaya musim lalu. Bayangkan jika 5 persen saja dari nilai kontrak masing-masing brand dialokasikan untuk membantu menyediakan transportasi bagi Bonek untuk away, saya yakin pasti cukup, atau bahkan masih ada sisa.

Tapi, cara ini akan sulit diterima manajemen Persebaya karena lagi-lagi tetap menjadi beban, sebab mengurangi keuntungan perusahaan. Tenang Pak Bos Azrul, masih ada cara lain: lahan penghasilan baru!

Manajemen Persebaya punya bahan jualan besar untuk dapat lahan penghasilan baru. Banyaknya jumlah ‘pejuang estafet’ adalah proposal berharga yang dapat diajukan ke calon sponsor. Cukup dibikin pengemasan event yang menarik, jadilah duit mengalir masuk.

Secara konkret, promosikan saja brand mereka saat momentum away. Berikut contohnya:
1. Mbonek Bareng Kapal Api: Dijamin Gak Ngantuk!
2. Men’s Biore Open Tour: Mbonek Luar Kota Tetap Mbois.
3. Bandung Calling bersama Antangin: Mbonek Tanpa Masuk Angin.
4. Ardiles on Tour: Wis Wayahe Bonek Sepatuan!

Ajukan kepada sponsor untuk menjamin biaya transportasi saja. Tidak perlu mewah, pakai truk akan lebih efisien. Selebihnya, untuk makan dan tiket pertandingan ditarik dari biaya pendaftaran. Ini sebagai edukasi agar Bonek tidak terjerumus pada budaya gratisan.

Untuk merealisasikan itu, tentu butuh waktu yang tidak singkat di tahap perencanaannya. Karena itu, selagi belum ada yang mensponsori, manajemen Persebaya harus tombok di awal untuk menyediakan transportasi terjangkau yang tidak harus mewah ini.

Di dalam dunia bisnis, kita mengenal konsep Corporate Social Responsibility (CSR). Dalam hal ini, Persebaya sebagai perusahaan punya kewajiban menyalurkan CSR. Penyaluran tidak harus dilakukan kepada pihak eksternal masyarakat jika di dalam diri sendiri saja kita masih butuh.

Ya, gunakan dana CSR Persebaya untuk menyediakan transportasi terjangkau saat laga tandang Persebaya. Sambil berjalan, program peralihan dari estafet ke ‘sewa truk bareng’ ini bisa menjadi budaya baru sekaligus penghasilan baru untuk Persebaya. Bonek senang, Persebaya senang.

Jika sudah begitu, maka kita semua bisa menilai, seberapa serius manajemen Persebaya ingin setop budaya estafet?

Sebelumnya:

Bagian 3: Budaya Estafet di Persimpangan Zaman

Oleh: Muhammad Choirul Anwar

Baca Juga

Amarah Bonek, Logika Customer, dan Terbakarnya Papan Sponsor

BonekJabodetabek.com | Entah bagaimana, saya selalu merindukan sosok